Babel 25 Tahun: Tinggalkan Tambang, Menatap Masa Depan Pariwisata

Seperempat Abad Berdiri, Babel Percepat Transformasi Ekonomi Non-Tambang

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (Bangka Belitung) – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung resmi menapaki usia 25 tahun sejak berpisah dari Provinsi Sumatera Selatan. Memasuki seperempat abad perjalanan, wilayah yang selama puluhan tahun identik dengan pertambangan timah ini mulai memperkuat arah pembangunan menuju ekonomi non-tambang melalui sektor pariwisata, ekonomi kreatif, serta pengembangan desa wisata. Jumat (21/11/2025)

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Kepemudaan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Bangka Belitung, Widya Kemala Sari, mengatakan bahwa transformasi ekonomi daerah merupakan agenda besar yang terus didorong pemerintah. Menurutnya, Babel memiliki kekuatan alam dan budaya yang menjanjikan untuk dikembangkan menjadi destinasi unggulan nasional maupun internasional.

banner 336x280

“Babel kini menatap masa depan dengan keyakinan bahwa pariwisata adalah pintu menuju transformasi ekonomi non-tambang, dengan kerja kolektif seluruh pihak,” kata Widya di Pangkalpinang, Jumat (21/11/2025).

Widya menjelaskan, pemerintah daerah terus melakukan penataan kawasan, pemetaan potensi, serta peningkatan kualitas layanan wisata. Salah satu pijakan utamanya adalah pemanfaatan lahan bekas tambang. Sejumlah lokasi yang sebelumnya merupakan area tambang kini telah direklamasi dan dikembangkan menjadi destinasi baru, mulai dari geopark, danau bekas tambang yang diubah menjadi objek wisata alam, hingga kawasan wisata edukasi terkait sejarah pertimahan.

Pemerintah mencatat pada tahun 2024 terdapat 640 daya tarik wisata yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Daya tarik tersebut mencakup pantai berpasir putih yang menjadi ikon Babel, situs geopark yang telah masuk dalam jaringan UNESCO Global Geopark, tradisi dan seni budaya masyarakat, hingga kekayaan kuliner seperti martabak Bangka dan hidangan laut.

“Potensi yang ada terbukti menarik hati wisatawan. Tahun lalu tercatat sebanyak 482.541 pengunjung datang dan menginap di hotel berbintang, mayoritas wisatawan nusantara, namun perlahan jumlah wisatawan mancanegara turut bertumbuh,” ujar Widya.

Selain daya tarik wisata, pengembangan desa wisata turut menjadi fokus utama. Bangka Belitung kini memiliki 100 desa wisata yang disebut Widya sebagai “laboratorium kreativitas masyarakat”. Melalui desa wisata, pemerintah mendorong pemberdayaan ekonomi lokal, pelestarian budaya, serta penguatan ekonomi kreatif.

Beberapa desa wisata bahkan meraih penghargaan nasional dan internasional. Di antaranya Desa Perlang yang meraih juara tiga ADWI 2022 kategori digital, Desa Tari Rebo yang menjadi juara satu ADWI 2023 kategori souvenir, Desa Terong yang menerima penghargaan Desa Wisata Berbasis Masyarakat ASEAN 2025, serta Desa Keciput yang masuk daftar 30 desa wisata terbaik nasional 2025.

“Sebagai program unggulan, Pemprov menargetkan peningkatan kualitas 20 desa wisata menuju level nasional dan internasional,” tambah Widya.

Ia menegaskan, keberhasilan transformasi pariwisata membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku industri, komunitas kreatif, serta masyarakat desa wisata. Pemerintah juga menyiapkan berbagai program peningkatan kapasitas sumber daya manusia, promosi digital, kemitraan dengan pelaku usaha, serta perluasan akses terhadap pembiayaan.

Dengan sejumlah langkah tersebut, Pemerintah Provinsi Bangka Belitung optimistis mampu memperkuat posisi daerah sebagai destinasi wisata bertaraf global. Momentum 25 tahun dinilai menjadi titik penting untuk mempercepat peralihan ekonomi yang selama ini bertumpu pada tambang menuju sektor pariwisata yang lebih berkelanjutan. (Sumber: Kompas.com, Editor: KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *