KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Permasalahan sampah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) semakin mendesak untuk diselesaikan. Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian menipis dan tingginya volume sampah harian membuat pemerintah daerah harus mengambil langkah cepat dan strategis. Menyikapi kondisi tersebut, Gubernur Babel Hidayat Arsani bergerak menjajaki solusi berbasis teknologi dengan menghadirkan sistem Waste to Energy yang dapat mengubah sampah menjadi pembangkit listrik. Rabu (19/11/2025)
Upaya ini diwujudkan melalui pertemuan Gubernur Hidayat dengan investor asal China, Mr. Lu Kefeng dari Chongqing San Feng Environment Co., Ltd—perusahaan yang telah berpengalaman dalam pengelolaan sampah menjadi energi listrik. Pertemuan yang juga dihadiri tokoh daerah Arbi Leo tersebut berlangsung di ruang kerja Gubernur, Selasa (18/11/2025).
“Kita hari ini kedatangan Pak Arbi dan Mr. Lu yang ingin berinvestasi di bidang sampah. Sampah ini akan dibuat menjadi listrik. Dari 700 ton sampah per hari dapat menghasilkan listrik sebesar 15–16 megawatt. Jadi ini bukan hanya menjadi solusi untuk sampah di Kota Pangkalpinang saja, tapi bisa menjadi solusi untuk sampah di kabupaten lainnya,” ujar Gubernur Hidayat.
Gubernur menegaskan bahwa Babel membutuhkan langkah besar dalam pengelolaan sampah. Selain mengurai permasalahan lingkungan, pengolahan sampah menjadi listrik juga dapat menjadi sumber daya energi baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa sampah di Babel yang selama ini hanya ditimbun dapat dimanfaatkan menjadi energi ramah lingkungan melalui teknologi modern yang dibawa investor tersebut.
Kesepakatan awal antara pemerintah dan pihak investor sudah tercapai. Jika tidak ada hambatan, dalam waktu tiga minggu ke depan akan dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terkait pembangunan fasilitas Waste to Energy tersebut.
“Ini solusi nyata dan jangka panjang. Dalam tiga minggu kita akan tanda tangani MoU-nya,” ungkap Hidayat.
Selain membahas persoalan sampah, dalam kesempatan tersebut juga dibahas potensi investasi di sektor pertanian. Berdasarkan laporan yang diterima Gubernur, Babel memiliki total 23.000 hektar lahan pertanian, namun baru 35 persen yang dikelola secara maksimal. Mr. Lu menawarkan teknologi pertanian modern yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menekan risiko gagal panen.
“Kita akan membawa lembaga pendidikan dan penelitian yang sudah berhasil di China. Mereka akan datang ke sini meneliti supaya kita produktivitasnya bisa menaikkan produksi dengan tenaga kerja yang lebih efisien. Teknologi ini dapat mendeteksi gejala hama dengan metode smart farming. Bahkan sebelum menyerang tanaman, hama ini dapat lebih dulu dicegah,” jelas Mr. Lu melalui penerjemah.
Teknologi pertanian tersebut mencakup sistem monitoring digital, pengendalian hama otomatis, pemetaan lahan, hingga penggunaan kecerdasan buatan untuk menentukan pola tanam paling efektif. Bahkan, perusahaan ini telah berhasil mengembangkan pertanian di tanah yang mengandung garam, sehingga lahan payau dan marginal di Babel memiliki potensi besar untuk kembali produktif.
Gubernur Hidayat menilai bahwa investasi yang ditawarkan Mr. Lu dan perusahaan Chongqing San Feng tidak hanya memberikan solusi teknis, tetapi juga membuka babak baru untuk pembangunan berkelanjutan di Babel. Menurutnya, transformasi pengelolaan sampah dan penguatan sektor pertanian menjadi dua sektor strategis yang dapat berdampak langsung pada masyarakat.
“Saya berterima kasih kepada Pak Arbi dan Mr. Lu yang sudah berupaya untuk masyarakat kita. Semoga apa yang kita harapkan dapat terimplementasi dengan baik. Nanti 3 minggu lagi tinggal kita tanda tangani MoU-nya. Saya juga berharap ke depan kita bisa surplus beras bahkan mengekspor ke daerah lain,” ungkap Gubernur Hidayat.
Ia menjelaskan bahwa Babel memang membutuhkan terobosan besar dalam sektor pertanian, mengingat masih banyak lahan yang belum digarap optimal. Teknologi smart farming diharapkan dapat mengubah pola kerja petani menjadi lebih modern, efisien, dan produktif.
Pemerintah Provinsi Babel optimistis bahwa kolaborasi dengan investor asing ini mampu menjawab dua isu krusial sekaligus, yaitu penanganan sampah dan ketahanan pangan. Dengan dukungan teknologi tinggi, Babel diharap mampu meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus memperkuat sektor ekonomi masyarakat.
Pertemuan tersebut menjadi langkah awal menuju transformasi lingkungan dan pertanian di Babel. Masyarakat juga berharap program ini tidak hanya menjadi proyek jangka pendek, tetapi benar-benar terealisasi dan memberikan manfaat luas bagi daerah. Dengan adanya Waste to Energy dan smart farming, Babel berpotensi menjadi provinsi percontohan dalam pengelolaan sampah dan pertanian modern di Indonesia. (KBO Babel)
















