Harga Bijih Timah di Bangka Tak Seragam, Penambang Sebut Kadar Sn Jadi Penentu Nilai Jual

Penambang Ungkap Penyebab Harga Timah Beda Antar Daerah: “Semua Tergantung Kualitas Barang”

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA) — Perbedaan harga bijih timah di kalangan penambang rakyat di Bangka belakangan ini menjadi sorotan publik. Harga jual yang diterima penambang berbeda cukup signifikan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Faktor utama penyebab perbedaan tersebut adalah kadar kandungan timah (Sn) dalam bijih yang dihasilkan, serta kualitas material yang ditambang. Kamis (30/10/2025)

Meski PT Timah Tbk telah menerapkan sistem Nilai Imbal Usaha Jasa Penambangan (NIUJP) sebagai acuan baku bagi seluruh mitra usaha, kenyataannya nilai kompensasi di lapangan tetap bervariasi. Hal ini bukan disebabkan oleh ketidakkonsistenan perusahaan atau mitra, melainkan oleh faktor teknis yang memengaruhi mutu bijih timah hasil tambang rakyat.

banner 336x280

Awan (25), penambang asal Perairan Matras, mengungkapkan bahwa harga jual bijih timah di wilayahnya berkisar antara Rp75.000 hingga Rp100.000 per kilogram basah. Ia mengakui harga itu sesuai dengan kondisi timah yang ia hasilkan, karena wilayah tempatnya menambang merupakan area bekas KPI (Kontrak Pengusahaan IUP) dengan karakter tailing atau sisa hasil tambang sebelumnya.

“Kalau timah saya dibeli sekitar 75 ribu sampai 100 ribu karena memang hasilnya lowgrade, bekas daerah KPI. Jadi semacam timah tailing. Memang kualitasnya tidak sebagus daerah lain,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Meski mengetahui harga di daerah lain bisa lebih tinggi, Awan tak mempermasalahkannya. Ia menyadari bahwa kadar Sn (stannum) pada bijih yang ia hasilkan memang rendah.

“Kita tahu hasil timah kita bagus atau tidak. Kalau barangnya rendah kadar Sn-nya, ya enggak bisa maksa tinggi. Yang penting masih dibeli mitra,” katanya.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga jual timah di wilayah Matras sedikit meningkat menjadi sekitar Rp90.000–100.000 per kilogram. Dengan harga itu, Awan bersama rekan-rekannya bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp150.000 per hari, meski pendapatan tersebut masih bergantung pada cuaca dan keberuntungan hasil tambang.

“Kalau cuaca bagus dan hasil lumayan, bisa dapat Rp150 ribuan per hari. Tapi kadang enggak sampai segitu juga, tergantung rezeki,” tambahnya.

Sementara itu, kondisi berbeda dirasakan oleh Faisal, penambang rakyat di Kawasan Rebo. Ia mengaku harga jual bijih timah di wilayahnya stabil di kisaran Rp160.000–170.000 per kilogram. Menurut Faisal, harga tersebut masih cukup baik dan stabil karena kadar Sn di wilayahnya tergolong tinggi dengan kadar pengotor rendah.

“Sekarang harga stabil Rp160 ribuan, dibeli mitra PT Timah. Lumayan bisa buat kebutuhan rumah tangga, bahkan kadang bisa nabung sedikit,” ujarnya.

Faisal menambahkan, para penambang di daerah Rebo tetap berharap harga bijih timah bisa naik hingga Rp200.000 per kilogram. Namun, ia menyadari bahwa harga sangat bergantung pada kualitas logam dan kondisi pasar. “Kalau bisa naik lagi sampai Rp200 ribu, tentu lebih bagus. Tapi memang tergantung kualitas juga. Ada juga yang timah kuning, harganya lebih rendah,” tuturnya.

Secara teknis, kadar Sn menjadi faktor paling menentukan dalam menentukan nilai ekonomis bijih timah. Bijih dengan kadar Sn tinggi menunjukkan kandungan logam yang lebih murni dan memiliki sedikit unsur pengotor seperti pasir, tanah liat, atau mineral lain. Bijih dengan kadar Sn rendah biasanya berasal dari daerah tailing, bekas tambang, atau lokasi dengan karakter tanah bercampur mineral berat lain.

Menurut sumber di lapangan, perbedaan harga ini juga dipengaruhi oleh metode pencucian dan peralatan tambang yang digunakan. Penambang dengan sistem pencucian sederhana sering kali menghasilkan bijih dengan kualitas yang tidak maksimal karena masih banyak tercampur material lain. Sementara penambang dengan sistem pencucian yang lebih efisien dapat meningkatkan kadar Sn sehingga harga jualnya lebih tinggi.

Seorang pengamat pertambangan lokal menuturkan, fenomena ini sebenarnya wajar dalam sistem pasar berbasis kualitas.

“Harga yang berbeda itu logis. Kalau kadar Sn tinggi, otomatis nilai jualnya tinggi juga. Ini sama seperti jual logam lain, kualitas menentukan harga. Bukan karena permainan pasar,” ujarnya.

Selain itu, faktor lokasi tambang juga turut berpengaruh. Daerah pesisir dengan sedimen berat cenderung menghasilkan timah dengan kadar Sn tinggi dibandingkan dengan daerah daratan atau bekas kolong tambang lama.

Dengan demikian, perbedaan harga bijih timah rakyat di Bangka bukan disebabkan oleh ketidakseimbangan harga pasar, melainkan sebagai konsekuensi alami dari variasi kadar logam, kondisi geologi, hingga teknik penambangan yang digunakan.

Penambang seperti Awan dan Faisal sepakat bahwa transparansi dari mitra dan PT Timah sangat penting agar penentuan harga tetap adil dan dapat diterima semua pihak.

“Selama penentuan harga jelas berdasarkan kadar Sn, kita tidak masalah. Yang penting proses timbang dan uji kadar dilakukan secara terbuka,” ujar Awan.

Fenomena ini juga menunjukkan pentingnya edukasi bagi para penambang rakyat mengenai cara meningkatkan kualitas hasil tambang agar dapat memperoleh nilai jual yang lebih baik di pasar resmi. (Sumber : Fakta Berita, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *