Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Bangka Belitung » Karhutla Beltim Mengkhawatirkan! 411 Kejadian dan 832 Hektare Lahan Terbakar, Tertinggi di Babel

Karhutla Beltim Mengkhawatirkan! 411 Kejadian dan 832 Hektare Lahan Terbakar, Tertinggi di Babel

  • account_circle Garry Irsa Maestra
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 3
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Advertisements
KBOBABEL.COM (BELITUNG TIMUR) – Kabupaten Belitung Timur (Beltim) menghadapi persoalan serius akibat tingginya angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Belitung Timur, tercatat sebanyak 411 kejadian kebakaran dengan total luas lahan terdampak mencapai 832 hektare hingga Selasa (27/10/2026). Rabu (28/10/2026)

Angka tersebut menjadi catatan tertinggi sekaligus terluas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. BPBD Beltim bahkan menyebut jumlah kejadian dan luas lahan terbakar di wilayah tersebut merupakan yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sepanjang 2026.

Kondisi kekeringan yang berkaitan dengan fenomena El Nino, ditambah aktivitas manusia dan tiupan angin kencang, disebut menjadi faktor yang memperburuk kebakaran di sejumlah wilayah.

Kepala Pelaksana BPBD Belitung Timur, Robby Yanuar, mengungkapkan bahwa kebakaran mulai terjadi sejak penghujung Juni 2026. Seiring berkurangnya kelembapan tanah dan mengeringnya vegetasi, jumlah kejadian terus mengalami peningkatan.

Puncak kebakaran terjadi pada Agustus dengan 143 kejadian. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 109 kejadian pada September, tetapi belum menunjukkan bahwa ancaman karhutla telah berakhir.

Hingga 27 Oktober 2026, BPBD masih mencatat 68 kejadian kebakaran sepanjang bulan berjalan.

“Puncaknya sendiri terjadi di bulan Agustus. Per Agustus itu 143 kejadian dan per hari ini, Oktober, ada 68 kejadian,” kata Robby.

Menurutnya, pada periode puncak kebakaran, petugas bahkan harus menghadapi 10 hingga 12 kejadian dalam sehari. Sementara pada Oktober, rata-rata masih ditemukan sekitar tiga hingga lima kejadian kebakaran setiap hari.

Situasi tersebut menyebabkan petugas pemadam harus bekerja secara intensif untuk mencegah api meluas, terutama pada kawasan yang memiliki vegetasi kering dan sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Manggar Jadi Wilayah dengan Kebakaran Terbanyak

Berdasarkan pemetaan BPBD Belitung Timur, kebakaran tersebar di sejumlah kecamatan dengan tingkat kejadian yang berbeda.

Kecamatan Manggar menempati urutan tertinggi dengan 160 kejadian, disusul Kecamatan Gantung sebanyak 119 kejadian dan Kecamatan Damar dengan 98 kejadian.

Sementara berdasarkan wilayah desa, Desa Padang di Kecamatan Manggar menjadi lokasi dengan kasus terbanyak, yakni 112 kejadian.

Dua wilayah lainnya, Desa Sukamandi di Kecamatan Damar dan Desa Selingsing di Kecamatan Gantung, masing-masing mencatat 63 kejadian kebakaran.

“Sebaran karhutla terjadi di berbagai wilayah Beltim. Kecamatan Manggar mencatat jumlah kejadian tertinggi, yakni 160 kasus. Berikutnya Kecamatan Gantung dengan 119 kasus dan Kecamatan Damar sebanyak 98 kasus,” beber Robby.

Dari total 832 hektare lahan terdampak, kebakaran paling banyak melanda lahan terbuka dan kawasan semak belukar dengan luas mencapai 745 hektare.

Selain itu, kebakaran turut menghanguskan sekitar 70 hektare lahan perkebunan dan 17 hektare kawasan hutan.

Besarnya luas lahan yang terbakar menunjukkan bahwa ancaman karhutla tidak hanya terjadi di kawasan hutan, tetapi juga pada lahan terbuka dan wilayah yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat.

“Besarnya angka tersebut menjadikan karhutla sebagai salah satu persoalan kebencanaan yang perlu mendapat perhatian serius di Beltim. Luas lahan yang terdampak tergolong paling besar dibandingkan wilayah lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ungkap Robby.

Aktivitas Manusia dan Angin Kencang Memperparah Kebakaran

Didampingi Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Belitung Timur, Supandi, Robby menjelaskan bahwa kondisi lahan yang mengering sejak Juni menyebabkan rumput, semak belukar, dan vegetasi lainnya menjadi sangat mudah terbakar.

Kondisi tersebut semakin berbahaya ketika disertai tiupan angin kencang yang mempercepat penyebaran api ke kawasan sekitarnya.

Berdasarkan temuan petugas di lapangan, sejumlah kejadian kebakaran diduga dipicu aktivitas manusia, mulai dari pembukaan lahan menggunakan api, pembakaran sampah, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan.

“Di Agustus itu bermacam-macam kejadian. Ada yang memang disengaja, ada pembukaan lahan, ada buang pembakaran sampah. Itu kebanyakan apinya merambat karena angin bertiup cukup kencang,” jelas Robby.

BPBD menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama karena sumber api yang kecil dapat berkembang menjadi kebakaran luas ketika mengenai vegetasi kering.

Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran terbuka, khususnya saat kondisi cuaca panas dan angin bertiup kencang.

Pencegahan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran meluas dan mengancam kawasan perkebunan maupun lingkungan masyarakat.

Pemadaman Libatkan TNI, Polri, Perusahaan dan Masyarakat

Menghadapi tingginya jumlah kejadian, BPBD Belitung Timur terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak dalam penanganan kebakaran.

Selain BPBD dan unit pemadam kebakaran Dinas Satuan Polisi Pamong Praja, penanganan juga melibatkan personel TNI, kepolisian, masyarakat, serta unit pemadam milik perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Beltim, Supandi, menjelaskan bahwa keberadaan unit pemadam yang tersebar di wilayah utara, tengah, dan selatan membantu mempercepat respons petugas.

Namun, kebakaran dengan cakupan lahan yang luas masih menjadi tantangan tersendiri karena membutuhkan tambahan personel, peralatan, dan koordinasi lintas instansi.

“Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kebakaran dengan luasan besar. Pernah terjadi kebakaran yang melanda area sekitar 19 hektare dalam satu kejadian, penanganan peristiwa seperti ini membutuhkan personel dan peralatan yang memadai serta dukungan lintas unsur,” ujar Supandi.

Menurutnya, kerja sama antarpihak sangat diperlukan agar proses pemadaman dapat berlangsung lebih cepat dan api tidak menjalar ke wilayah lainnya.

BPBD Siagakan Layanan Darurat 24 Jam

BPBD Belitung Timur mengingatkan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan karena ancaman kebakaran masih terjadi hingga penghujung Oktober.

Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, menghindari pembakaran sampah sembarangan, serta memastikan tidak ada sumber api yang ditinggalkan di kawasan rawan kebakaran.

Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan setiap kemunculan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sebelum kebakaran semakin meluas.

Untuk mempercepat laporan dan penanganan, BPBD Belitung Timur menyediakan layanan pengaduan darurat selama 24 jam melalui nomor 0878-6977-5023.

Dengan tingginya angka kebakaran yang telah mencapai 411 kejadian dan 832 hektare lahan terdampak, BPBD menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam upaya pencegahan.

Pengawasan, kesiapsiagaan petugas, serta kesadaran masyarakat menjadi faktor penting untuk menekan angka karhutla dan mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas di Kabupaten Belitung Timur. (Garry Irsa Maestra/KBO Babel)

  • Penulis: Garry Irsa Maestra
  • Editor: Sri Rezeki

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less