Karhutla Capai 82 Hektare di Babel, BPBD Soroti Kebiasaan Warga Bakar Sampah dan Buka Lahan

Kemarau Diprediksi hingga Awal 2027, BPBD Babel Ingatkan Ancaman Karhutla Makin Meluas

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah tersebut selama musim kemarau telah mencapai sekitar 82 hektare. Selasa (28/7/2026)

Meski luasan lahan yang terbakar cukup signifikan, seluruh titik api yang masuk dalam pendataan BPBD disebut telah berhasil ditangani oleh petugas di lapangan. Penanganan secara cepat dilakukan untuk mencegah api meluas dan berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

banner 336x280

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Agus Afandi, mengatakan kebakaran yang terjadi selama periode musim kemarau cenderung tersebar di sejumlah lokasi. Sebagian besar titik kebakaran memiliki skala relatif kecil sehingga dapat segera dipadamkan sebelum berkembang secara berkelanjutan.

“Alhamdulillah, yang ada di data kita berarti yang sudah ditangani. Karena spot-spot-nya tidak besar dan tidak sampai berkelanjutan. Jadi begitu terjadi, tim langsung turun memadamkan,” kata Agus, Senin (27/7/2026).

Menurut Agus, respons cepat menjadi salah satu faktor penting dalam mengendalikan karhutla di wilayah Bangka Belitung. Begitu mendapat informasi mengenai adanya titik api, tim langsung dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan memastikan api tidak merembet ke area lain.

Namun, hingga saat ini penyebab pasti dari seluruh kejadian karhutla belum dapat dipastikan. Hal tersebut disebabkan petugas kerap tidak menemukan pelaku atau pihak yang diduga menjadi sumber awal munculnya api.

Berdasarkan hasil analisis sementara di lapangan, sebagian kebakaran diduga dipicu oleh aktivitas masyarakat yang membakar sampah di sekitar permukiman. Selain itu, terdapat pula dugaan kebakaran yang bermula dari kegiatan pembersihan dan pembukaan lahan untuk kepentingan pertanian maupun perkebunan.

“Kalau analisisnya, ada yang berasal dari pembakaran sampah. Kemudian ada juga penyumber api yang diduga berasal dari aktivitas warga yang sedang membersihkan atau membuka lahan,” ujar Agus.

BPBD Babel pun mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran secara sembarangan, terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering dan angin cukup kencang.

Agus secara khusus meminta masyarakat menghentikan kebiasaan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Menurutnya, cara tersebut memang dinilai lebih mudah dan cepat, tetapi memiliki risiko tinggi apabila api tidak dapat dikendalikan.

“Membakar lahan memang terlihat lebih gampang karena tidak perlu menebas atau menebang, tetapi dampaknya bisa memicu kebakaran besar. Begitu api membesar, proses pemadamannya sangat sulit karena lokasinya kerap berada di dalam hutan yang tidak memiliki akses jalan,” jelasnya.

Kondisi medan menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman karhutla. Kebakaran yang terjadi di kawasan hutan atau lahan yang jauh dari akses jalan dapat menyulitkan mobilisasi kendaraan dan peralatan pemadam. Akibatnya, petugas harus menempuh jarak tertentu secara manual untuk mencapai lokasi titik api.

Selain itu, kondisi cuaca yang panas dan kering dapat menyebabkan api lebih cepat menyebar. Vegetasi yang mengering selama musim kemarau juga berpotensi menjadi bahan bakar yang membuat api mudah merambat dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Karena itu, Agus menilai upaya pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama. Tidak hanya mengandalkan petugas pemadam atau BPBD, masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah munculnya titik api baru.

Kesadaran warga untuk tidak membakar sampah sembarangan dan tidak membuka lahan dengan metode pembakaran dinilai menjadi langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap pencegahan karhutla.

Di sisi lain, potensi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan masih perlu diwaspadai seiring dengan prediksi kondisi musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pangkalpinang sebelumnya memperkirakan musim kemarau tahun ini dapat berlangsung hingga awal 2027. Kondisi tersebut dikaitkan dengan adanya potensi fenomena El Nino yang diperkirakan masih bertahan hingga awal tahun depan.

Prakirawan BMKG Pangkalpinang, Slamet Supriadi, mengatakan berdasarkan hasil monitoring kondisi iklim terbaru, peluang terjadinya El Nino masih cukup besar. Fenomena tersebut berpotensi memengaruhi kondisi cuaca dan memperpanjang periode musim kemarau di sejumlah wilayah, termasuk Kepulauan Bangka Belitung.

“Berdasarkan hasil monitoring, peluang terjadinya El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga awal tahun 2027. Dengan kondisi tersebut, musim kemarau diperkirakan juga akan berlangsung hingga awal tahun,” kata Slamet, Senin (20/7/2026).

Slamet menjelaskan, puncak musim kemarau di Bangka Belitung diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Pada periode tersebut, curah hujan diprediksi mengalami penurunan sehingga kondisi lahan dan vegetasi berpotensi menjadi lebih kering.

Situasi itu tidak hanya meningkatkan risiko terjadinya karhutla, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lain, seperti kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Masyarakat pun diminta mulai melakukan langkah antisipasi dengan menghemat penggunaan air dan menjaga sumber-sumber air yang tersedia. Di saat yang sama, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran harus ditingkatkan, khususnya di wilayah yang memiliki lahan kering dan kawasan hutan.

BPBD Babel berharap masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap yang berpotensi menjadi karhutla. Pelaporan lebih awal dinilai dapat mempercepat penanganan sehingga kebakaran dapat dikendalikan sebelum meluas.

Dengan potensi musim kemarau yang masih berlangsung hingga awal 2027, kolaborasi antara pemerintah, petugas di lapangan, dan masyarakat menjadi kunci dalam menekan risiko karhutla. Pencegahan sejak dini diharapkan dapat menghindarkan Bangka Belitung dari kebakaran hutan dan lahan berskala besar yang berpotensi mengancam lingkungan, kesehatan masyarakat, serta aktivitas warga. (Sumber : RRI, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed