KBOBABEL.COM (BANGKA SELATAN) — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Dusun Serdang, Desa Jelutung 2, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengakibatkan ratusan rumah warga hangus terbakar. Berdasarkan laporan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sebanyak 305 rumah terdampak dalam peristiwa tersebut. Senin (12/10/2026)
Kebakaran terjadi pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 15.10 WIB. Api yang awalnya membakar lahan di sekitar permukiman penduduk dengan cepat merambat ke rumah-rumah warga akibat tiupan angin kencang dan kondisi lahan yang kering.
Sebagian besar rumah warga yang terdampak diketahui memiliki material bangunan berupa papan atau kayu. Kondisi tersebut membuat api mudah menjalar dan memperbesar dampak kebakaran di kawasan permukiman.
Berdasarkan pembaruan data Pusdalops BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Minggu (11/10/2026) malam, kebakaran tersebut berdampak pada sekitar 450 kepala keluarga (KK) atau 1.800 jiwa. Selain rumah penduduk, sekitar 50 gedung sarang burung walet juga dilaporkan terdampak.
Luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 8,3 hektare. Sementara itu, kerugian material sementara ditaksir sekitar Rp2 miliar. Nilai kerugian tersebut masih bersifat perkiraan dan berpotensi berubah seiring proses pendataan di lapangan.
Meski mengakibatkan kerusakan besar, laporan sementara menyebutkan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Pendataan terhadap fasilitas umum yang kemungkinan terdampak masih terus dilakukan oleh petugas gabungan.
Api Berhasil Dipadamkan, Petugas Lakukan Pendinginan
Memasuki hari kedua penanganan, Minggu (11/10/2026), api dilaporkan berhasil dipadamkan. Namun, petugas gabungan masih melakukan proses pendinginan untuk mencegah munculnya kembali titik api, terutama pada sisa material bangunan yang sebagian besar terbuat dari papan.
Proses pemadaman dan penanganan kebakaran menghadapi sejumlah kendala. Angin kencang membuat api mudah menyebar, sedangkan sumber air yang jauh dan sebagian mengering menyulitkan upaya pemadaman. Kondisi lahan gambut juga menjadi salah satu faktor penghambat penanganan karhutla.
Informasi awal mengenai kebakaran diterima Komandan Regu 2 pada Sabtu sore setelah memantau informasi yang beredar di media sosial. Menindaklanjuti laporan tersebut, komandan regu piket yang dikoordinasikan oleh Iwan berkoordinasi dengan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Suryadi, S.Ag., untuk menyiapkan personel serta sarana dan prasarana menuju lokasi.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kemudian dikerahkan untuk mendukung penanganan bersama unsur gabungan dari pemerintah daerah, TNI, Polri, petugas pemadam kebakaran, tenaga kesehatan, dan relawan.
Hingga laporan terakhir, penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui. Petugas masih berfokus pada penanganan dampak bencana, pendinginan, pendataan kerusakan, serta pemenuhan kebutuhan warga yang kehilangan tempat tinggal.
Sekitar 500 Warga Mengungsi
Kebakaran tersebut memaksa ratusan warga meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Berdasarkan pembaruan kondisi pengungsian dalam laporan BPBD, sekitar 300 orang berada di SDN 7 Simpang Rimba, sedangkan sekitar 200 orang lainnya mengungsi di Masjid Al Muhajirin.
Dengan demikian, jumlah warga yang tercatat berada di dua titik pengungsian tersebut mencapai sekitar 500 orang. Jumlah ini masih dapat berubah mengikuti perkembangan pendataan dan kondisi warga di lapangan.
Selain menyiapkan lokasi pengungsian, BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendirikan tenda pengungsi di halaman SDN 7 Simpang Rimba. Langkah tersebut dilakukan setelah koordinasi dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Selatan.
Dinas Sosial Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga mengoperasikan Dapur Umum Lapangan (Dumlap) untuk mendukung penyediaan makanan bagi warga terdampak. Dapur umum turut disiapkan di kawasan Masjid Al Muhajirin guna membantu memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Sebagian warga memilih tinggal sementara di rumah kerabat atau sanak saudara yang tidak terdampak kebakaran. Sementara itu, pemerintah dan petugas gabungan terus melakukan koordinasi untuk memastikan kebutuhan pengungsi dapat terpenuhi.
Penanganan di lokasi melibatkan berbagai unsur, di antaranya TRC BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, BPBD dan Damkar Bangka Selatan, Damkar Bangka Tengah, Brimob Polda Babel, Dit Samapta Polda Babel, Dit Lantas Polda Babel, Dinas Sosial, Kodim 0432 Bangka Selatan, Polsek Simpang Rimba, Koramil Payung, Unit Siaga SAR Toboali, Dinas Kesehatan, PLN, BWS PU Bangka Belitung, Tagana, serta relawan kebencanaan.
Sejumlah kendaraan dan peralatan turut dikerahkan untuk mendukung penanganan, mulai dari mobil pemadam kebakaran, mobil water cannon, mobil rescue, mobil tangki air, kendaraan pengangkut logistik, hingga tenda pengungsian dan perlengkapan pendukung lainnya.
Pendataan dan Penanganan Masih Berlangsung
BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menegaskan bahwa data dampak kebakaran masih bersifat sementara. Angka 305 rumah terdampak, 450 KK atau 1.800 jiwa, serta sekitar 50 gedung sarang burung walet masih dapat berubah setelah proses verifikasi dan pendataan lanjutan selesai dilakukan.
Pemerintah daerah bersama unsur terkait juga masih melakukan koordinasi untuk penanganan darurat dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak. Perhatian utama saat ini mencakup keselamatan warga, ketersediaan tempat pengungsian, penyediaan makanan, serta pencegahan munculnya kembali titik api.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius karena kebakaran tidak hanya menghanguskan lahan, tetapi juga meluas hingga ke permukiman dan menyebabkan ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal.
Warga terdampak diharapkan tetap mengikuti arahan petugas serta tidak kembali ke bangunan yang rusak sebelum dinyatakan aman. Sementara itu, proses pendataan kerusakan dan kebutuhan warga perlu terus diperbarui agar bantuan penanganan bencana dapat disalurkan sesuai kondisi di lapangan. (KBO Babel)

















