Mabes TNI Dorong Pencegahan Karhutla di Pangkalpinang, Bukan Sekadar Padamkan Api

Karhutla Makin Mengancam, Mabes TNI Tekankan Mitigasi dan Kolaborasi Lintas Sektor

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) mendorong perubahan pola pikir dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah Kota Pangkalpinang. Penanganan karhutla dinilai tidak boleh hanya mengandalkan tindakan pemadaman setelah api muncul, tetapi harus lebih mengutamakan pencegahan dan mitigasi sejak dini. Selasa (15/9/2026)

Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Satgas Penyuluhan Penanggulangan Karhutla Mabes TNI, Kolonel Marinir Inggit Dahana Setyawan, saat memberikan materi Penanggulangan Karhutla Wilayah Kota Pangkalpinang di Gedung SRC Lantai II Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Senin (14/9/2026).

banner 336x280

Kegiatan tersebut diikuti jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Pangkalpinang, serta sejumlah perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemerintah Kota Pangkalpinang.

Tim Mabes TNI yang diterjunkan dalam kegiatan tersebut berjumlah sembilan personel. Mereka merupakan personel gabungan dari tiga matra TNI, yakni TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara.

Dalam pemaparannya, Inggit menekankan pentingnya membangun kesadaran bersama bahwa karhutla harus dicegah sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Menurutnya, pendekatan preventif menjadi salah satu kunci dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Edukasi kepada masyarakat dan mitigasi sejak awal dinilai lebih efektif dibandingkan mengerahkan sumber daya setelah kebakaran meluas.

“Kami melaksanakan pencegahan, mitigasi, dan penyuluhan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan. Lebih baik tidak ada timbul api daripada kita menanggulangi, itu sebenarnya motto kita,” ujar Inggit.

Ia menjelaskan, kondisi musim kemarau dapat meningkatkan kerawanan terjadinya karhutla. Lahan yang mengalami kekeringan menjadi lebih mudah terbakar, sementara proses pemadaman dapat menjadi semakin sulit apabila api telah menyebar ke area yang luas.

Karena itu, seluruh pihak diminta tidak hanya menunggu munculnya titik api untuk kemudian melakukan pemadaman. Upaya pencegahan harus dilakukan secara konsisten melalui pemetaan wilayah rawan, edukasi masyarakat, pengawasan, serta kesiapsiagaan personel dan sarana prasarana.

Inggit juga menyoroti aspek efisiensi dalam penanganan karhutla. Menurutnya, pemadaman kebakaran membutuhkan biaya yang besar karena melibatkan mobilisasi personel, kendaraan, peralatan, serta berbagai sarana pendukung lainnya.

“Memadamkan atau menanggulangi ini membutuhkan cost yang besar karena harus memobilisasi sarana dan prasarana. Dengan mencegah, itu akan jauh lebih baik,” tegasnya.

Untuk memperkuat langkah pencegahan, Tim Mabes TNI juga akan mengedepankan pendekatan humanis melalui kegiatan edukasi dan penyuluhan. Sosialisasi tidak hanya ditujukan kepada masyarakat umum, tetapi juga menyasar generasi muda di lingkungan sekolah, khususnya tingkat SMP dan SMA.

Edukasi kepada pelajar dinilai penting untuk membangun kesadaran sejak dini mengenai bahaya pembakaran lahan secara sembarangan serta dampak yang ditimbulkan karhutla terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Penanganan karhutla, lanjut Inggit, juga tidak dapat dilakukan oleh satu instansi atau sektor saja. Diperlukan kolaborasi dan koordinasi yang terintegrasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, masyarakat, pelaku usaha, pengelola perkebunan, hingga pemerintahan di tingkat desa.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar langkah pencegahan dapat dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kawasan yang memiliki potensi rawan kebakaran hingga lingkungan permukiman masyarakat.

Selain pencegahan dan pemadaman, Mabes TNI juga menekankan pentingnya pemulihan kawasan yang terdampak kebakaran. Setelah api berhasil dipadamkan, penanganan tidak boleh langsung dihentikan.

Menurut Inggit, kawasan hutan atau lahan yang terbakar perlu direhabilitasi dan dipelihara secara berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian dari siklus penanggulangan karhutla yang harus dilakukan secara konsisten.

“Ketika api sudah padam, kita harus merehabilitasi hutan tersebut dan melaksanakan pemeliharaan berkelanjutan sampai nanti masuk tahap penyuluhan lagi sebelum musim kemarau berikutnya,” jelasnya.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun sistem penanggulangan karhutla yang lebih komprehensif. Tidak hanya berorientasi pada respons ketika bencana terjadi, tetapi juga mencakup pencegahan, mitigasi, penanganan, hingga rehabilitasi.

Karhutla sendiri memiliki dampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Selain mengancam kawasan hutan dan lahan, kebakaran dapat menimbulkan asap yang mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Dampak lainnya juga dapat dirasakan pada sektor sosial dan ekonomi serta mengganggu aktivitas masyarakat.

Dari sisi lingkungan, kebakaran dalam skala besar dapat merusak habitat dan mengancam keberlangsungan flora serta fauna. Kerusakan ekosistem tersebut membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.

Karena itu, Mabes TNI mendorong seluruh pemangku kepentingan di Pangkalpinang dan daerah lainnya untuk memperkuat langkah pencegahan. Perubahan pola pikir dari menunggu dan memadamkan menjadi mencegah sejak awal diharapkan dapat menekan potensi munculnya titik api.

Melalui sinergi lintas sektor, edukasi masyarakat, kesiapsiagaan, serta rehabilitasi pascakebakaran, penanganan karhutla diharapkan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.

Pesan utama yang disampaikan Mabes TNI sederhana, namun menjadi bagian penting dalam strategi menghadapi ancaman karhutla: mencegah munculnya api jauh lebih baik daripada harus menghadapi kebakaran yang telah meluas. (Sumber : wowbabel.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *