KBOBABEL.COM (TOBOALI) — Dugaan aktivitas bongkar muat pasir timah secara ilegal kembali mencuat di wilayah pesisir Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Kali ini, kawasan Pantai Gunung Namak di Toboali yang selama ini dikenal sebagai objek wisata sekaligus wilayah tangkapan nelayan setempat disebut pernah menjadi lokasi aktivitas mencurigakan yang diduga berkaitan dengan penyelundupan pasir timah melalui jalur laut. Senin (24/8/2026)
Informasi tersebut mencuat dari kesaksian sejumlah nelayan yang beraktivitas di sekitar kawasan Pantai Gunung Namak. Mereka mengaku pernah melihat aktivitas yang diduga berkaitan dengan bongkar muat pasir timah pada malam hari.
Salah seorang nelayan yang ditemui mengatakan, beberapa bulan lalu dirinya pernah melihat sebuah mobil truk yang diduga mengangkut pasir timah melakukan aktivitas di kawasan pesisir tersebut.
“Beberapa bulan lalu ada mobil truk yang diduga mengangkut pasir timah ilegal. Aksinya sekitar pukul 20.00 WIB malam,” ujarnya.
Menurut dia, aktivitas tersebut berlangsung ketika kondisi kawasan pantai mulai sepi. Situasi tersebut diduga dimanfaatkan untuk mengurangi perhatian masyarakat maupun nelayan yang masih beraktivitas di sekitar kawasan.
Namun, sejauh ini belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum yang memastikan bahwa Pantai Gunung Namak merupakan lokasi penyelundupan pasir timah. Kesaksian nelayan tersebut juga masih berupa dugaan yang membutuhkan pendalaman serta pembuktian lebih lanjut.
Nelayan Diminta Tinggalkan Lokasi
Kesaksian lain yang disampaikan nelayan setempat turut menambah kecurigaan terhadap aktivitas di kawasan tersebut.
Seorang nelayan mengaku pernah mendapatkan cerita dari rekannya yang sedang mencari ikan di sekitar pesisir Pantai Gunung Namak. Saat sedang beraktivitas, rekannya didatangi sejumlah orang yang tidak dikenal.
Orang-orang tersebut disebut meminta nelayan meninggalkan lokasi dengan alasan kawasan tersebut sedang digunakan untuk suatu kegiatan.
“Teman saya saat mukat ikan didatangi. Mereka bilang, kami sedang ada kerjaan, tolong pergi dari sini. Mereka juga memberikan uang Rp300 ribu,” ungkapnya.
Permintaan untuk meninggalkan lokasi tersebut, menurut kesaksian yang diterimanya, terjadi pada saat terdapat dugaan aktivitas truk yang membawa pasir timah.
Kondisi itu kemudian menimbulkan pertanyaan di kalangan nelayan karena kawasan tersebut selama ini merupakan salah satu lokasi masyarakat mencari ikan dan menggantungkan kehidupan.
Meski demikian, nelayan tersebut mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah aktivitas serupa masih berlangsung hingga saat ini. Ia juga tidak dapat memastikan siapa pihak yang berada di balik aktivitas tersebut.
Disebut Lebih Aktif Saat Cuaca Mendukung
Nelayan tersebut mengatakan kondisi cuaca dan gelombang laut diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi aktivitas kapal di perairan sekitar Pantai Gunung Namak.
Menurut dia, aktivitas menggunakan jalur laut akan lebih memungkinkan dilakukan ketika kondisi perairan relatif tenang. Sebaliknya, gelombang besar dinilai membuat kapal lebih sulit bergerak dan meningkatkan risiko perjalanan.
“Kalau kalian mau memantau, coba datang saat musim barat. Saat itu angin teduh. Kalau sekarang gelombang besar, pasti mereka tidak berani menyelundup,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu informasi yang perlu diverifikasi lebih lanjut oleh aparat, terutama mengingat kawasan pesisir Bangka Selatan memiliki sejumlah jalur perairan yang dapat digunakan untuk aktivitas masyarakat maupun transportasi laut.
Nelayan Pernah Didatangi Speedboat
Cerita mengenai dugaan aktivitas mencurigakan di perairan tersebut tidak hanya berkaitan dengan truk pengangkut pasir timah.
Nelayan itu juga mengaku pernah didatangi sebuah speedboat berukuran besar ketika sedang melaut di sekitar perairan dekat Pulau Dapur.
Kedatangan speedboat tersebut disebut sempat membuatnya terkejut. Di dalam kapal, menurut pengakuannya, terdapat beberapa orang yang membawa senjata laras panjang.
Namun, identitas dan institusi orang-orang yang berada di dalam speedboat tersebut belum dapat dipastikan secara independen.
Nelayan tersebut mengatakan orang-orang di dalam speedboat sempat menanyakan keberadaan perahu tanpa kamar. Mereka juga disebut menanyakan apakah kawasan perairan sekitar kerap digunakan sebagai jalur penyelundupan timah.
“Mereka menanyakan keberadaan perahu tanpa kamar. Mereka juga bertanya apakah di sekitar sini sering terjadi penyelundupan timah,” katanya.
Informasi tersebut semakin memperkuat adanya perhatian terhadap aktivitas di kawasan perairan sekitar Gunung Namak. Namun, dugaan mengenai identitas maupun tujuan speedboat tersebut tetap membutuhkan verifikasi dari pihak berwenang.
Dugaan Aktivitas Lain di Jalur Laut
Selain dugaan penyelundupan pasir timah, nelayan juga mengungkap adanya pergerakan speedboat jenis speed lidah yang disebut kerap melintas dari arah seberang pada dini hari.
Menurut pengakuannya, pergerakan kapal tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas ilegal lain. Ia bahkan menduga speedboat tersebut digunakan untuk transaksi narkotika jenis sabu.
“Ada juga speed lidah dari seberang sekitar dini hari. Kalau dilihat, diduga untuk melempar narkoba jenis sabu,” ujarnya.
Namun, dugaan tersebut juga belum dapat dipastikan kebenarannya dan belum disertai bukti yang dapat diverifikasi secara independen.
Penyelundupan Timah Jadi Perhatian Pemerintah
Dugaan aktivitas di Pantai Gunung Namak mencuat ketika upaya pemberantasan penyelundupan pasir timah di Bangka Belitung terus menjadi perhatian aparat penegak hukum.
Polda Kepulauan Bangka Belitung hingga jajaran Mabes Polri dan TNI telah melakukan berbagai upaya penindakan terhadap aktivitas pertambangan ilegal maupun penyelundupan komoditas timah.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebelumnya juga memberikan perhatian khusus terhadap persoalan tersebut. Dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026), Prabowo menginstruksikan Panglima TNI dan Kapolri untuk memberantas aktivitas tambang ilegal serta penyelundupan timah di Bangka Belitung.
Instruksi tersebut menjadi penegasan bahwa persoalan tata kelola timah dan praktik penyelundupan masih menjadi perhatian pemerintah pusat.
Di tingkat daerah, informasi dari masyarakat dan nelayan menjadi salah satu sumber penting bagi aparat dalam memetakan potensi jalur penyelundupan. Karena itu, dugaan aktivitas bongkar muat pasir timah di Pantai Gunung Namak perlu ditindaklanjuti dengan penyelidikan untuk memastikan apakah benar terdapat aktivitas ilegal di kawasan tersebut.
Apalagi, Pantai Gunung Namak tidak hanya memiliki nilai sebagai kawasan wisata, tetapi juga menjadi salah satu wilayah yang dimanfaatkan nelayan untuk mencari penghidupan.
Jika benar terdapat aktivitas bongkar muat ilegal, penindakan diperlukan untuk memastikan kawasan pesisir tidak dimanfaatkan sebagai jalur penyelundupan. Sebaliknya, apabila dugaan tersebut tidak terbukti, klarifikasi dari aparat juga penting agar masyarakat tidak terus dibayangi informasi yang belum terverifikasi.
Hingga kini, kesaksian para nelayan tersebut masih menjadi informasi awal. Kepastian mengenai ada atau tidaknya aktivitas penyelundupan timah maupun dugaan tindak pidana lain di kawasan Pantai Gunung Namak tetap membutuhkan pembuktian dan keterangan resmi dari aparat berwenang. (Sumber : koranbabelpos.id, Editor : KBO Babel)











