Peneliti BRIN Tegaskan Nuklir Energi Paling Aman, Indonesia Didorong Segera Beralih dari Wacana ke Implementasi

BRIN: Energi Nuklir Paling Aman dan Rendah Emisi, Indonesia Diminta Segera Bangun PLTN

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (Jakarta) – Di tengah upaya global mengejar target emisi nol bersih, perdebatan mengenai keamanan energi nuklir di Indonesia masih kerap dibayangi kekhawatiran yang tidak sepenuhnya berbasis data ilmiah terkini. Menanggapi kondisi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menegaskan posisi strategis nuklir dalam bauran energi nasional. Senin (23/2/2026)

Dalam pemaparan terbarunya, peneliti BRIN menyebut energi nuklir bukan sekadar opsi, melainkan termasuk salah satu sumber energi paling aman dan rendah emisi karbon yang tersedia saat ini.

banner 336x280

Pernyataan itu disampaikan oleh Anhar Riza Antariksawan, peneliti sekaligus dosen Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN, saat menjadi narasumber dalam acara Capacity Building Awareness Nuklir 2026 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Kamis (22/1) lalu.

Penegasan dari lembaga riset pelat merah ini menjadi sinyal kuat bahwa dari sisi teknologi dan keselamatan, Indonesia sejatinya telah memiliki fondasi yang cukup untuk melangkah ke tahap implementasi.

“Energi nuklir termasuk salah satu sumber energi paling aman dan rendah emisi karbon, sebanding dengan energi terbarukan lainnya,” ungkap Anhar, dikutip dari siaran pers resmi BRIN. Pernyataan ini sekaligus menepis anggapan bahwa nuklir bertentangan dengan semangat energi hijau.

Menurutnya, nuklir justru diposisikan sebagai bagian integral dari bauran energi nasional untuk mendukung target energi baru dan terbarukan (EBT).

Pandangan tersebut sejalan dengan pengalaman negara-negara maju yang telah lama mengoperasikan pembangkit nuklir dalam skala besar. Amerika Serikat, misalnya, telah mengoperasikan lebih dari 100 unit Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) selama puluhan tahun dan menjadikannya tulang punggung pasokan listrik rendah karbon. Data operasional menunjukkan bahwa industri nuklir AS memiliki tingkat kecelakaan fatal per unit energi yang sangat rendah, bahkan lebih aman dibandingkan pembangkit berbasis fosil. Pengalaman panjang ini memperlihatkan bahwa dengan regulasi ketat dan budaya keselamatan yang kuat, PLTN dapat beroperasi secara andal dan aman dalam jangka panjang.

Contoh lain datang dari Prancis, negara yang dikenal sebagai model keberhasilan integrasi energi nuklir dalam sistem kelistrikan nasional. Sekitar 70 persen listrik Prancis berasal dari PLTN, menjadikannya salah satu negara dengan intensitas emisi karbon sektor listrik terendah di dunia.

Selama beberapa dekade, PLTN Prancis beroperasi stabil dan aman, sekaligus memberikan ketahanan energi nasional yang kuat di tengah fluktuasi harga energi global. Fakta ini mempertegas bahwa nuklir bukan hanya aman, tetapi juga efektif sebagai fondasi transisi energi berskala besar.

Anhar juga menjelaskan konsep nuclear renewable hybrid energy system, yakni integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan energi terbarukan. Pendekatan ini ditujukan untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional yang kerap terkendala sifat intermiten energi surya dan angin, sekaligus menopang kebutuhan industri, penyediaan air bersih, hingga produksi bahan bakar sintetis.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia memiliki PLTN bukanlah gagasan baru. Sejak awal kemerdekaan, Presiden pertama RI Soekarno telah meletakkan fondasi kemandirian teknologi melalui pembentukan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Hal ini menandai bahwa penguasaan teknologi strategis, termasuk nuklir, sejak lama dipandang sebagai bagian dari visi pembangunan bangsa.

Namun ironi muncul ketika Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Anhar menyoroti geliat Afrika dalam mengadopsi teknologi nuklir. Afrika Selatan telah lama mengoperasikan PLTN, Mesir tengah menyelesaikan pembangunan, sementara Ghana dan Ethiopia mulai menunjukkan komitmen serius memasuki era energi nuklir.

Fakta ini menjadi refleksi bagi Indonesia, yang memiliki sumber daya manusia nuklir relatif matang, tetapi masih tertahan pada tahap diskursus.

Dari sisi keselamatan, Anhar menegaskan bahwa teknologi reaktor telah berkembang pesat. Belajar dari tragedi Fukushima Daiichi 2011, desain reaktor modern kini menitikberatkan pada sistem keselamatan pasif, yang memungkinkan pendinginan reaktor berlangsung secara mandiri tanpa ketergantungan pasokan listrik eksternal dalam jangka panjang.

“Saat ini, pengembangan reaktor generasi keempat terus dilakukan di berbagai negara dengan desain revolusioner yang mengedepankan efisiensi tinggi dan aspek keselamatannya,” tegasnya. Ia juga memaparkan prinsip 3S (Safety, Security, Safeguard) sebagai standar mutlak, di mana keselamatan instalasi, pengamanan material nuklir, dan akuntabilitas bahan nuklir berada di bawah pengawasan internasional yang ketat.

Dengan kesiapan teknologi dan meningkatnya urgensi energi bersih yang andal, momentum ini semestinya dimanfaatkan pemerintah untuk bergerak dari wacana menuju realisasi pembangunan fisik PLTN. Terlebih, dukungan dari sektor swasta sudah mulai terlihat, salah satunya melalui PT Thorcon Power Indonesia yang telah memperoleh Persetujuan Evaluasi Tapak dari BAPETEN untuk rencana pembangunan PLTN di Bangka Belitung.

Dengan fakta ilmiah yang dipaparkan BRIN, pengalaman panjang negara-negara seperti Amerika Serikat dan Prancis, serta kesiapan pelaku industri yang mulai nyata, Indonesia kini berada di persimpangan strategis. Pilihannya adalah tetap terjebak dalam perdebatan berkepanjangan, atau mengikuti jejak negara-negara yang telah membuktikan bahwa nuklir dapat menjadi pilar energi bersih, aman, dan berkelanjutan. (KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *