Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Bangka » Aset Pendidikan Terancam, Polman Babel Soroti Aktivitas Ponton TI yang Kembali Muncul

Aset Pendidikan Terancam, Polman Babel Soroti Aktivitas Ponton TI yang Kembali Muncul

  • account_circle Farraz Prakasa
  • calendar_month Kamis, 5 Nov 2026
  • visibility 10
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Advertisements
KBOBABEL.COM (BANGKA) – Aktivitas tambang inkonvensional (TI) menggunakan ponton kembali ditemukan di kawasan belakang Kampus Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung (Polman Babel). Kemunculan ponton-ponton tambang tersebut menjadi perhatian serius pihak kampus karena dinilai berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, khususnya abrasi, yang dikhawatirkan dapat mengancam keberadaan pagar tembok dan aset pendidikan milik negara. Kamis (5/11/2026)

Keberadaan ponton tambang di kawasan tersebut kembali terpantau setelah sebelumnya sempat tidak terlihat dalam beberapa kali pemantauan. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pihak kampus terhadap kemungkinan aktivitas pertambangan yang masih berlangsung, meskipun sebelumnya kawasan tersebut sudah menjadi perhatian.

Tim Humas Polman Babel menemukan kembali keberadaan ponton TI saat melakukan pemantauan di wilayah belakang kampus pada Rabu (4/11/2026). Dalam pemantauan tersebut, sejumlah ponton terlihat bersandar maupun diduga sedang melakukan aktivitas penambangan di sekitar kawasan kampus.

Temuan ini cukup mengejutkan pihak kampus. Pasalnya, berdasarkan hasil pemantauan sebelumnya, aktivitas ponton tambang di kawasan tersebut sempat tidak ditemukan.

Humas Polman Babel, Hadi Firmansyah, saat dikonfirmasi tim media, Kamis (5/11/2026), mengungkapkan bahwa pihaknya kembali menemukan ponton tambang setelah melakukan pengecekan langsung ke lokasi.

Menurut Hadi, kemunculan kembali ponton tersebut menunjukkan bahwa kawasan belakang kampus masih berpotensi menjadi lokasi aktivitas pertambangan. Padahal, pihaknya berharap tidak ada lagi kegiatan penambangan di sekitar area tersebut.

“Setelah beberapa waktu sebelumnya kawasan itu dipantau bersama dan aktivitas tersebut sudah tidak terlihat, namun setelah dilakukan pengecekan kembali, ternyata masih ditemukan ponton yang bersandar maupun beraktivitas di belakang kampus,” ungkap Hadi.

Ia menduga aktivitas penambangan tersebut kemungkinan dilakukan pada malam hari atau setelah jam kerja. Dugaan itu muncul karena keberadaan ponton tidak selalu terlihat ketika dilakukan pemantauan pada siang hari.

Menurutnya, apabila aktivitas pertambangan berlangsung pada waktu tertentu di luar jam pemantauan, kondisi tersebut tentu menyulitkan pengawasan secara langsung. Terlebih, kawasan belakang kampus perlu mendapatkan perhatian agar tidak dimanfaatkan untuk kegiatan yang berpotensi mengganggu lingkungan dan fasilitas pendidikan.

Meski demikian, Hadi menegaskan bahwa pihak kampus belum mengetahui secara pasti identitas pemilik ponton-ponton yang ditemukan di lokasi tersebut. Karena itu, diperlukan keterlibatan instansi terkait untuk melakukan pengecekan dan penelusuran lebih lanjut terhadap aktivitas pertambangan yang berlangsung di kawasan tersebut.

Khawatir Abrasi Mengancam Aset Kampus

Selain persoalan keberadaan ponton TI, hal lain yang menjadi perhatian pihak Polman Babel adalah potensi kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan yang tidak terkendali.

Hadi mengingatkan bahwa kegiatan penambangan di sekitar kawasan belakang kampus berpotensi menimbulkan perubahan kondisi lingkungan. Salah satu dampak yang dikhawatirkan adalah terjadinya abrasi yang dapat mengancam kawasan sekitar, termasuk pagar tembok kampus.

Menurutnya, apabila abrasi terus terjadi dan tidak mendapatkan perhatian, bukan tidak mungkin kondisi tersebut akan berdampak terhadap keamanan serta keberadaan sejumlah fasilitas kampus.

Pagar tembok yang menjadi bagian dari pembatas kawasan pendidikan merupakan salah satu aset yang perlu dilindungi. Kerusakan pada bagian tersebut tentu berpotensi menimbulkan persoalan baru, terutama berkaitan dengan keamanan lingkungan kampus.

“Walaupun masyarakat mencari nafkah, kami berharap aktivitas ponton TI di belakang kampus tidak dilakukan. Kami juga berharap pihak berwenang dapat turun tangan untuk menghentikan aktivitas tersebut,” harapnya.

Hadi memahami bahwa sebagian masyarakat menggantungkan kehidupan ekonomi dari sektor pertambangan. Namun, menurutnya, kegiatan mencari nafkah tetap harus memperhatikan aturan, keselamatan, serta dampak terhadap lingkungan dan kepentingan masyarakat luas.

Ia berharap kepentingan ekonomi tidak sampai mengabaikan keberadaan fasilitas umum, terlebih kawasan pendidikan yang memiliki fungsi penting dalam mencetak sumber daya manusia.

Minta Aparat dan Instansi Terkait Turun Tangan

Lebih lanjut, Hadi meminta perhatian serius dari pihak berwenang, terutama aparat penegak hukum dan instansi teknis terkait, untuk melakukan pengecekan langsung terhadap keberadaan ponton TI di belakang kampus.

Penertiban dinilai penting agar aktivitas pertambangan yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan tidak terus berlangsung. Selain itu, langkah pengawasan juga diperlukan untuk memastikan kawasan tersebut tidak kembali dimanfaatkan sebagai lokasi penambangan tanpa memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Pihak kampus berharap persoalan ini tidak hanya menjadi perhatian sesaat setelah adanya temuan ponton. Diperlukan langkah nyata dan pengawasan berkelanjutan sehingga aktivitas yang berpotensi mengganggu lingkungan maupun aset negara dapat dicegah.

Hadi menegaskan bahwa Polman Babel merupakan fasilitas umum milik negara yang bergerak di bidang pendidikan. Karena itu, keberadaan kampus beserta seluruh fasilitas pendukungnya harus dijaga bersama, baik oleh masyarakat maupun instansi pemerintah yang memiliki kewenangan.

“Polman Babel merupakan fasilitas umum milik negara, khususnya di sektor pendidikan. Aset ini harus kita jaga bersama. Jangan sampai aktivitas yang tidak terkendali menimbulkan abrasi dan berdampak pada kerusakan pagar tembok kampus maupun lingkungan sekitar,” tegasnya.

Ia juga berharap adanya koordinasi antara pihak kampus, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, serta instansi terkait untuk memastikan kawasan belakang Polman Babel tetap aman dan terbebas dari aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.

Bagi pihak kampus, persoalan ini bukan semata-mata menyangkut keberadaan ponton tambang, melainkan juga menyangkut perlindungan aset negara dan keberlangsungan lingkungan di sekitar fasilitas pendidikan.

“Kami berharap instansi terkait dapat memberikan perhatian dan mengambil langkah nyata agar kawasan belakang kampus tetap aman dan tidak ada lagi aktivitas pertambangan yang berpotensi merusak lingkungan,” tutup Hadi.

Kemunculan kembali ponton TI di belakang Kampus Polman Babel diharapkan menjadi perhatian bersama. Pengawasan dan penertiban diperlukan agar kawasan pendidikan tersebut tidak menjadi korban dampak aktivitas pertambangan yang tidak terkendali. (Sumber : Trasberita.com, Editor : KBO Babel)

  • Penulis: Farraz Prakasa
  • Editor: Sri Rezeki

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less