KBOBABEL.COM (MENTOK, BANGKA BARAT) — Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional 2026, Bupati Bangka Barat, Markus, menegaskan komitmennya bahwa pemerintah tidak boleh sekadar mendengar, tetapi harus hadir dan bertindak nyata untuk buruh. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan May Day di Lapangan Parkir Timur Pemkab Bangka Barat, Senin (4/5/2026). Selasa (5/5/2026)
“Pemerintah akan selalu hadir untuk mendengar, menganalisis, serta mengimplementasikan hak-hak para buruh,” ujar Markus dalam sambutannya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan arah kepemimpinannya bahwa buruh bukan sekadar objek kebijakan, melainkan pusat dari pembangunan daerah.
Tema “May Day Harmoni 2026: Hadir untuk Masyarakat, Sehat Bersama, Ekonomi Terjaga” menjadi dasar pendekatan yang dibangun Markus. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kesejahteraan pekerja dan stabilitas ekonomi.
Dalam pidatonya, Markus mengungkapkan data ketenagakerjaan di Bangka Barat. Tercatat 109.046 pekerja dari total 220.242 penduduk sejak 2024, dengan mayoritas berada pada usia produktif 20–44 tahun.
“Jumlah ini bukan kecil. Ini adalah tulang punggung ekonomi daerah yang harus dijaga hak dan keberlanjutannya,” katanya.
Data tersebut memperlihatkan posisi strategis buruh dalam pembangunan. Bagi Markus, angka itu bukan sekadar statistik, tetapi representasi nyata kehidupan masyarakat yang menggantungkan harapan pada pekerjaan.
Ia juga mengingatkan akar sejarah May Day, yang berawal dari Haymarket Affair di Amerika Serikat. Menurutnya, sejarah tersebut menjadi refleksi penting bahwa perjuangan buruh lahir dari proses panjang dan tidak boleh dilupakan.
“Hari buruh adalah momentum untuk mengenang sejarah sekaligus menyuarakan harapan,” ujarnya.
Markus menekankan bahwa peringatan ini harus menjadi pijakan untuk membangun masa depan yang lebih adil, bukan sekadar perayaan tahunan.
Dalam perspektif kebijakan, ia mendorong perubahan cara pandang terhadap buruh. Ia menilai buruh harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan yang memiliki peran strategis.
“Hari buruh juga menjadi ruang untuk menyatukan pandangan, merayakan capaian, sekaligus memperjuangkan peningkatan kesejahteraan,” tambahnya.
Pernyataan ini menunjukkan upaya membangun hubungan yang lebih setara antara pemerintah dan pekerja, sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas.
Di balik rangkaian pidato dan data, suasana peringatan May Day di Bangka Barat menyimpan sisi yang lebih mendalam.
Di antara para pekerja yang hadir, ada wajah-wajah yang datang bukan untuk seremoni, tetapi untuk memastikan bahwa suara mereka benar-benar didengar. Mereka sebagai buruh yang setiap hari bekerja di sektor informal, di laut, di pasar dan di berbagai lini ekonomi lokal.
Bagi mereka, kehadiran pemerintah bukan konsep, melainkan kebutuhan.
Di titik itulah pesan Markus menemukan maknanya.
Membuka sambutannya dengan ungkapan syukur, Markus menegaskan bahwa kepemimpinan tidak boleh berjarak dari rakyat. Dengan visi “Berkeadilan, Makmur, Tangguh, dan Bersahabat,” ia menempatkan buruh sebagai pusat kebijakan pembangunan.
Peringatan May Day 2026 pun menjadi lebih dari sekadar acara tahunan. Ia berubah menjadi ruang uji antara janji dan realitas.
Menutup sambutannya, Markus menyampaikan harapan sederhana.
“Semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan berkat dan rahmat kepada kita semua.” tutupnya.
Namun di balik kalimat itu, tersimpan pesan yang lebih kuat bahwa kepemimpinan bukan diukur dari kata-kata, melainkan dari kehadiran nyata.
Di Bangka Barat, pada May Day tahun ini, Markus memilih satu posisi yang jelas berdiri di sisi buruh, bukan di kejauhan.













