KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menetapkan sejumlah wilayah di Bangka Belitung dalam status siaga kekeringan selama Agustus 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi berkurangnya intensitas hujan yang terjadi selama periode musim kemarau. Rabu (12/8/2026)
Status siaga kekeringan menjadi peringatan bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi berkurangnya ketersediaan air bersih. Selain berdampak terhadap kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Kepulauan Babel, Slamet Supriyadi, mengatakan penetapan status siaga tersebut merupakan langkah antisipatif untuk mendorong pemerintah daerah dan masyarakat melakukan persiapan menghadapi musim kemarau.
“Kami mengimbau masyarakat lebih hemat dalam menggunakan air selama musim kemarau tahun ini,” kata Slamet Supriyadi di Pangkalpinang, Selasa (11/8/2026), dikutip dari Antara.
Tiga Wilayah Alami Penurunan Curah Hujan
Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis BMKG, sejumlah wilayah di Kepulauan Bangka Belitung mengalami penurunan curah hujan yang cukup signifikan.
Beberapa daerah yang menjadi perhatian antara lain Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Selatan dan Kabupaten Belitung.
Penurunan curah hujan tersebut menyebabkan ketersediaan air di sejumlah wilayah semakin terbatas. Kondisi ini terutama perlu diantisipasi apabila periode tanpa hujan berlangsung dalam waktu yang lebih panjang.
BMKG menyebut status siaga kekeringan ditetapkan untuk meningkatkan kewaspadaan seluruh pihak terhadap kemungkinan dampak musim kemarau yang relatif kering pada tahun ini.
“Kondisi ini untuk meningkatkan kewaspadaan pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengantisipasi kekeringan dampak musim kemarau kering tahun ini,” ujar Slamet.
Berkurangnya hujan dalam waktu yang cukup panjang dapat menyebabkan cadangan air tanah maupun air permukaan terus menurun. Jika kondisi tersebut berlangsung secara berkelanjutan, masyarakat berpotensi mengalami kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, BMKG meminta masyarakat tidak menggunakan air secara berlebihan dan mulai melakukan penghematan sejak kondisi kekeringan belum mencapai puncaknya.
Puncak Kemarau Diprediksi September
BMKG memprediksi puncak musim kemarau di wilayah Kepulauan Bangka Belitung akan terjadi pada September 2026.
Sementara itu, periode musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, atau sekitar Januari hingga Februari. Durasi musim kemarau yang cukup panjang tersebut membuat masyarakat perlu melakukan langkah antisipasi terhadap kemungkinan kekurangan air.
Fenomena El Nino turut disebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat kondisi kemarau kering tahun ini. Fenomena tersebut dapat berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan sehingga periode kering menjadi lebih panjang.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat diminta tidak menunggu hingga persediaan air benar-benar habis untuk melakukan antisipasi.
BMKG mendorong masyarakat menyiapkan wadah penampungan air sebagai salah satu langkah menghadapi kemungkinan hujan yang turun dengan intensitas terbatas.
Masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih juga dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memperoleh bantuan air bersih.
“Kami mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan air dan melakukan alternatif-alternatif lainnya jika tidak ada lagi ketersediaan air di rumahnya. Misalnya, meminta bantuan air bersih ke BPBD dan menyediakan wadah penampungan air jika hujan turun,” kata Slamet.
Ancaman Karhutla Meningkat
Selain krisis air bersih, kondisi kemarau juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Lahan yang mengalami kekeringan akan lebih mudah terbakar. Kondisi tersebut semakin berisiko ketika musim kemarau disertai angin kencang. Api yang muncul di lahan kosong, semak belukar maupun kawasan hutan yang mengering dapat dengan cepat menyebar.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, termasuk untuk membersihkan area perkebunan atau lahan kosong.
“Selama musim kemarau yang disertai angin kencang ini, api akan sangat sulit dikendalikan di semak belukar pada lahan-lahan kosong maupun hutan yang sudah banyak mengering. Oleh karena itu, diimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran di lahan-lahan tersebut,” tegas Slamet.
Peringatan tersebut menjadi penting karena kebakaran yang terjadi pada musim kemarau berpotensi meluas apabila tidak segera ditangani. Asap yang dihasilkan juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
Masyarakat Diminta Bersiap
Dengan puncak kemarau diprediksi terjadi pada September, masyarakat di Kepulauan Bangka Belitung diminta mulai melakukan berbagai langkah penghematan air.
Penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari perlu dilakukan secara bijak. Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembakaran terbuka di lahan yang kondisinya telah mengering.
Pemerintah daerah juga diharapkan memperkuat pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan maupun karhutla serta menyiapkan langkah penanganan apabila terjadi krisis air bersih.
Status siaga kekeringan yang ditetapkan BMKG menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Dengan antisipasi sejak dini, dampak musim kemarau terhadap ketersediaan air dan ancaman karhutla di Bangka Belitung diharapkan dapat ditekan. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)

















