Krisis Air Bersih Saat Kemarau, Dinkes Bangka Barat Ungkap Risiko Diare dan DBD Mengintai Warga

Kemarau Bikin Sumur Kering, Dinkes Bangka Barat Ungkap Dua Penyakit yang Mengintai Warga

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA BARAT) — Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang hingga menyebabkan kekeringan dan krisis air bersih membuat masyarakat harus mencari pasokan air dari berbagai sumber. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena air yang diperoleh dari sumber yang tidak terjamin kebersihannya berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Sabtu (19/9/2026)

Sejumlah masyarakat terpaksa memanfaatkan air dari kolong, waduk, sungai maupun sumber air lainnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian warga juga memilih membeli air bersih dari pengusaha air karena sumur galian mulai mengering.

banner 336x280

Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan maupun mengonsumsi air, terutama untuk kebutuhan minum dan memasak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Bangka Barat, dr. Ratnosoppi, mengatakan terdapat sejumlah penyakit yang perlu diwaspadai masyarakat selama musim kemarau. Dua di antaranya adalah diare dan demam berdarah dengue (DBD).

“Sebetulnya tren yang terjadi di musim kemarau ini penyakitnya adalah diare. Dan yang kedua adalah demam berdarah (DBD),” kata Ratnosoppi, Jumat (18/9/2026).

Meski demikian, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan Bangka Barat, jumlah kasus kedua penyakit tersebut hingga saat ini belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.

“Rata-rata case (kasus) per bulannya masih sama dengan bulan sebelumnya,” ujarnya.

Ratnosoppi menjelaskan, potensi diare meningkat karena kondisi kekeringan membuat masyarakat kesulitan memperoleh air baku, termasuk dari sumur galian yang selama ini menjadi salah satu sumber air masyarakat.

Ketika sumur mulai mengering, warga kemudian mencari alternatif sumber air, mulai dari membeli air hingga mengambilnya dari sungai, kolong, waduk dan sumber lainnya.

Menurutnya, penggunaan air dari sumber tersebut pada dasarnya tidak menjadi persoalan selama kualitas air terjamin dan tidak tercemar maupun terkontaminasi.

Namun, risiko penularan penyakit dapat muncul apabila sumber air yang digunakan masyarakat tercemar oleh kotoran manusia maupun sumber pencemar lainnya.

“Karena sumur gali kan rata-rata kering. Makanya mencari sumber air dengan cara membeli dan mencari di sungai, kolong atau lain sebagainya,” jelasnya.

Ia menyoroti potensi pencemaran yang dapat terjadi apabila terdapat aktivitas buang air besar (BAB) di sekitar lokasi masyarakat mengambil air. Kondisi tersebut berpotensi menjadi sumber penularan penyakit diare apabila air yang tercemar kemudian digunakan untuk kebutuhan konsumsi.

“Potensi risiko masyarakat yang BAB di tempat masyarakat mengambil air, itu yang berpotensi menjadi penularan diare,” katanya.

Karena itu, masyarakat diminta memastikan air yang akan dikonsumsi benar-benar aman dan tidak berasal dari sumber yang telah tercemar. Kebersihan lingkungan di sekitar sumber air juga perlu diperhatikan untuk mencegah munculnya penyakit.

Selain diare, masyarakat juga diminta mewaspadai ancaman DBD selama musim kemarau. Kondisi kekurangan air membuat masyarakat cenderung menyimpan persediaan air dalam berbagai wadah, seperti tandon, drum dan tempat penampungan lainnya.

Menurut Ratnosoppi, wadah-wadah tersebut dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes, yang menjadi vektor penular DBD, apabila tidak dikelola dengan baik.

“Itu yang menjadi sumber perindukan nyamuk Aedes,” ungkapnya.

Persoalan lain muncul ketika masyarakat enggan menguras atau membuang air yang telah ditampung karena kondisi air bersih yang sulit diperoleh. Padahal, air yang dibiarkan dalam wadah dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak.

Untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk, masyarakat dapat melakukan langkah pengendalian tanpa harus membuang seluruh persediaan air. Salah satunya dengan menggunakan bubuk abate sesuai petunjuk atau memanfaatkan ikan pemakan jentik pada wadah penampungan yang memungkinkan.

Upaya tersebut penting dilakukan bersamaan dengan menjaga kebersihan tempat penampungan air dan memastikan wadah tidak menjadi lokasi berkembangnya jentik nyamuk.

Ratnosoppi menegaskan, apabila ditemukan kasus diare maupun DBD di suatu wilayah, pihaknya akan melakukan penelusuran untuk mengetahui kemungkinan sumber penularannya.

“Kalau memang ada terjadi diare dan DBD, kita akan cari sumber airnya untuk mengambil langkah pencegahan dan pengendalian penyakit,” imbuhnya.

Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat tetap waspada selama musim kemarau, terutama dalam memilih sumber air, menjaga kebersihan lingkungan serta mengelola tempat penampungan air. Langkah pencegahan dinilai penting agar kesulitan mendapatkan air bersih tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *