Air Irigasi Keruh Diduga Akibat Tambang, Petani Rias Bangka Selatan Terancam Gagal Panen

Krisis Air Bersih untuk Irigasi, Petani Minta Pemerintah Hentikan Tambang di Hulu Pumpung

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA SELATAN) – Kekhawatiran besar tengah melanda para petani di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Air irigasi yang selama ini menjadi penopang utama keberhasilan pertanian tiba-tiba berubah keruh pekat dengan kandungan sedimen tebal. Kondisi tersebut diduga kuat disebabkan oleh aktivitas pertambangan timah yang beroperasi di bagian hulu Sungai Pumpung, sumber utama irigasi sawah petani. Kamis (27/11/2025)

Perubahan warna air yang sebelumnya jernih menjadi cokelat pekat itu bukan hanya mengganggu pandangan, tetapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap ribuan meter lahan sawah yang sedang berada pada masa tanam. Para petani melihat fenomena keruhnya air bukan sebagai kejadian alamiah, melainkan sebagai dampak langsung dari aktivitas tambang yang mengaduk dasar sungai dan menghasilkan limbah material yang terbawa arus.

banner 336x280

Para petani di kawasan Pumpung Rias sejak beberapa hari terakhir mengeluhkan kondisi air yang masuk ke saluran irigasi. Air bercampur lumpur itu kini menggenangi hamparan sawah, menimbulkan sedimen tebal di permukaan dan menyebabkan sistem irigasi tidak bekerja optimal. Sedimen tersebut mengendap dan menutupi akar tanaman padi yang sedang memasuki fase pertumbuhan penting. Kondisi ini membuat tanaman rentan mengalami stres, pertumbuhan terhambat, hingga berpotensi mati sebelum mencapai masa pematangan.

Kekhawatiran para petani semakin kuat karena masa tanam saat ini merupakan fase menentukan dalam siklus pertanian. Jika kualitas air tidak segera membaik, mereka mengkhawatirkan potensi gagal panen yang dapat merugikan secara ekonomi dan mengancam ketersediaan pangan lokal. Padahal pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto tengah menjadikan ketahanan pangan sebagai salah satu program unggulan nasional.

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Junjung Besaoh, Tahang, menyampaikan bahwa pihaknya telah memberikan laporan resmi kepada instansi pemerintah sejak 10 November 2025. Namun hingga kini, menurutnya, belum ada langkah konkret yang dirasakan oleh petani di lapangan.

“Petani sudah menyampaikan laporan dan aduan resmi sejak 10 November 2025 kepada instansi terkait. Namun sampai sekarang kami belum melihat tindakan nyata untuk mengatasi persoalan di lapangan,” kata Tahang, Rabu (26/11/2025).

Tahang juga menegaskan bahwa aktivitas tambang timah yang beroperasi di hulu Sungai Pumpung harus segera dihentikan karena secara langsung mempengaruhi kualitas air yang dialirkan ke sawah.

“Aktivitas tambang timah yang beroperasi di hulu sungai harus segera dihentikan, dan harapan lainnya memulihkan kualitas air yang masuk ke saluran irigasi,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa masa tanam tahun ini sangat menentukan bagi keberlangsungan usaha pertanian di Desa Rias. Jika air yang masuk ke sawah terus-menerus keruh dan dipenuhi sedimen, maka tanaman padi dapat mengalami gangguan serius.

“Jika kondisi air tetap keruh dan bercampur sedimen, potensi kerugian semakin besar karena tanaman bisa berhenti tumbuh atau mati sebelum masuk masa pematangan,” ujar Tahang.

Dari hasil pemantauan tim di lapangan, kondisi sawah tampak memprihatinkan. Warna cokelat pada air tergenang tampak jelas, sementara sedimen tebal terlihat mengendap di berbagai titik. Beberapa petani yang ditemui mengaku kebingungan karena tidak memiliki pilihan lain selain tetap mengandalkan air irigasi yang tersedia. Mereka juga mengkhawatirkan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, biaya produksi akan meningkat akibat kemungkinan harus melakukan penyulaman ulang atau bahkan gagal panen total.

Para petani mendesak pemerintah daerah, instansi lingkungan hidup, dan aparat penegak hukum untuk turun langsung menertibkan aktivitas pertambangan yang diduga tidak memiliki pengawasan memadai. Mereka berharap penyelesaian dilakukan secepat mungkin mengingat dampaknya sudah sangat terasa dan berpotensi memperburuk kondisi lahan pangan di wilayah tersebut.

Keruhnya air irigasi di Desa Rias menjadi gambaran nyata betapa rentannya ruang hidup petani di Bangka Belitung ketika aktivitas tambang tidak terkendali di kawasan hulu sungai. Selama aliran air terus membawa lumpur dan sedimen ke sawah, musim tanam akan terus berada dalam ancaman. Selain itu, ketergantungan petani pada alam membuat mereka tak memiliki penyangga lain ketika kualitas air memburuk.

Persoalan ini bukan hanya menyangkut keberlangsungan pertanian, tetapi juga menyangkut keberlanjutan ketahanan pangan daerah. Jika pemerintah tidak segera merespons, dampaknya bukan hanya dirasakan petani, melainkan juga masyarakat luas yang bergantung pada produksi pangan di Bangka Selatan.

Hingga berita ini diterbitkan, redaksi babelhebat masih berupaya melakukan konfirmasi kepada dinas terkait untuk mendapatkan informasi resmi sekaligus memberikan ruang hak jawab sebagaimana diatur dalam UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 Pasal 5 ayat (2). (Sumber : Babelhebat, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *