Sudah Enam Hari Diburu Petugas, Api Karhutla di Tuing Masih Menyisakan Titik Panas

Lebih dari 200 Titik Terbakar, Karhutla Bangka Hanguskan Sekitar 300 Hektare Lahan

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (SUNGAILIAT) — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, semakin mengkhawatirkan. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, tercatat lebih dari 200 titik kebakaran dengan total luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 300 hektare. Kamis (13/8/2026)

Kondisi tersebut menunjukkan tingginya ancaman karhutla di tengah cuaca panas dan kondisi vegetasi yang semakin kering. Bahkan, sejumlah titik kebakaran membutuhkan waktu berhari-hari untuk dapat dikendalikan petugas.

banner 336x280

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di kawasan Tuing. Proses pemadaman di wilayah tersebut telah berlangsung selama enam hari. Meski petugas telah melakukan upaya pemadaman, sejumlah titik masih menyisakan letupan api kecil.

Plt Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bangka, Achmad Suherman, mengatakan laporan mengenai titik api baru masih terus diterima hampir setiap hari.

Menurutnya, kondisi di lapangan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Lokasi kebakaran yang berada jauh di dalam kawasan hutan membuat proses pemadaman tidak dapat dilakukan dengan mudah.

“Kasus di kawasan Tuing menjadi contoh nyata, di mana proses pemadaman telah memakan waktu hingga enam hari dan masih menyisakan letupan api kecil di sejumlah titik,” kata Achmad Suherman, Rabu (12/8/2026).

Lebih dari 200 Titik Kebakaran

Achmad menjelaskan, sejak awal tahun hingga Agustus 2026, jumlah titik kebakaran di Kabupaten Bangka telah melampaui 200 kejadian. Luas area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 300 hektare.

Lonjakan kasus tersebut menjadi perhatian karena sebagian kebakaran diduga berkaitan dengan aktivitas masyarakat yang sengaja membakar lahan untuk keperluan pembersihan maupun pembukaan kebun.

Kebiasaan membakar lahan tersebut dapat menjadi berbahaya ketika dilakukan dalam kondisi cuaca panas dan kering. Api yang semula kecil berpotensi dengan cepat merambat ke area lain karena vegetasi dalam kondisi mudah terbakar.

Kondisi angin dan minimnya kelembapan juga dapat membuat proses pengendalian api semakin sulit. Ketika api telah menyebar luas, petugas membutuhkan waktu lebih lama untuk memastikan seluruh titik api benar-benar padam.

Kendala Akses dan Armada

Selain faktor cuaca dan kondisi lahan, petugas pemadam juga menghadapi kendala teknis di lapangan. Sejumlah lokasi kebakaran berada jauh di dalam kawasan hutan sehingga sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Akses jalan yang tidak memadai membuat armada tidak dapat mendekati sumber api secara maksimal. Kondisi ini membuat petugas harus melakukan penanganan dengan kemampuan yang tersedia di lokasi.

Keterbatasan armada juga menjadi salah satu persoalan. Dari empat unit mobil Satpol PP Kabupaten Bangka, hanya dua unit yang saat ini dapat berfungsi secara efektif untuk mendukung kegiatan operasional.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Satpol PP tetap menyiagakan sedikitnya 20 personel untuk melakukan penanganan dan berkoordinasi dengan instansi terkait.

Namun, Achmad menegaskan bahwa upaya pemadaman tidak akan efektif apabila tidak dibarengi langkah pencegahan. Menurutnya, pengendalian karhutla harus dimulai dari kesadaran masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.

Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan

Pemerintah Kabupaten Bangka mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan api sebagai cara untuk membersihkan lahan atau membuka area perkebunan.

Masyarakat juga diminta memastikan seluruh sisa pembakaran, bara, maupun sumber panas benar-benar telah padam sebelum meninggalkan lokasi. Bara yang terlihat kecil tetap berpotensi kembali menyala dan memicu kebakaran yang lebih besar.

Selain itu, warga diharapkan saling mengingatkan apabila menemukan aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi membahayakan lingkungan.

Achmad menilai pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan melakukan pemadaman setelah api terlanjur meluas. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengantisipasi meningkatnya kasus karhutla di Kabupaten Bangka.

“Jika melihat adanya kepulan asap atau titik api sekecil apa pun, masyarakat diminta untuk segera melapor kepada petugas agar penanganan cepat dapat langsung dilakukan sebelum musibah kebakaran semakin meluas,” tegasnya.

Dengan jumlah titik kebakaran yang telah menembus lebih dari 200 lokasi dan luas area terdampak sekitar 300 hektare, kewaspadaan seluruh pihak dinilai menjadi kunci untuk mencegah karhutla semakin meluas.

Penanganan di lapangan akan terus dilakukan melalui koordinasi antarinstansi. Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan masyarakat, terutama dalam mencegah munculnya titik api baru.

Kasus kebakaran di Tuing yang membutuhkan waktu hingga enam hari untuk ditangani menjadi gambaran bahwa kebakaran lahan tidak mudah dikendalikan ketika api telah menjalar jauh ke dalam kawasan hutan. Karena itu, mencegah munculnya api sejak awal menjadi langkah paling penting untuk menekan dampak karhutla di Kabupaten Bangka. (Sumber : babelpos.id, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *