DPR Minta Pemerintah Antisipasi Dini Ancaman Super Flu H3N2 Subclade K

Ancaman Super Flu H3N2, DPR Tekankan Masker dan Kesiapan Fasilitas Kesehatan

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (JAKARTA) — Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa meminta pemerintah untuk tidak menunggu terjadinya lonjakan kasus sebelum mengambil langkah konkret dalam menghadapi ancaman virus influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai super flu. Ia menilai upaya pencegahan dini jauh lebih efektif dibandingkan penanganan saat kasus sudah meluas di masyarakat. Rabu (7/1/2026)

Permintaan tersebut disampaikan Neng Eem menyusul laporan penyebaran super flu di sejumlah negara Asia dan kawasan lainnya. Beberapa negara yang telah mencatatkan infeksi subclade K antara lain China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Thailand, hingga Amerika Serikat.

banner 336x280

“Kami meminta pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, melakukan langkah antisipasi sejak dini. Sosialisasi penggunaan masker di ruang publik sangat penting karena terbukti efektif menekan penularan virus pernapasan, termasuk influenza,” ujar Neng Eem dalam keterangannya, Rabu (7/1/2026).

Menurut Neng Eem, penggunaan masker merupakan langkah pencegahan paling sederhana namun efektif untuk menekan penyebaran virus, terutama di ruang publik yang padat dan tertutup. Ia menegaskan, kebijakan pencegahan tidak perlu menunggu situasi darurat atau lonjakan kasus seperti yang pernah terjadi pada masa pandemi Covid-19.

Selain upaya pencegahan di tingkat masyarakat, Neng Eem juga menekankan pentingnya kesiapan sistem layanan kesehatan. Pemerintah diminta memastikan tenaga medis siap, ketersediaan alat pelindung diri mencukupi, sistem deteksi dini berjalan optimal, serta mekanisme penanganan pasien telah disiapkan dengan baik.

“Kesiapan fasilitas kesehatan menjadi faktor penentu agar kasus tidak melonjak. Ini bukan upaya menakut-nakuti masyarakat, melainkan bentuk perlindungan negara terhadap kesehatan publik,” tegasnya.

Ia kembali mengingatkan bahwa pendekatan pencegahan selalu lebih murah dan lebih efektif dibandingkan penanganan ketika kasus sudah meluas. Oleh karena itu, koordinasi lintas sektor serta kesiapan layanan kesehatan tidak boleh ditunda.

“Pencegahan lebih murah dan lebih efektif dibanding penanganan ketika kasus sudah meluas. Koordinasi lintas sektor dan kesiapan layanan kesehatan tidak boleh ditunda,” ujar Neng Eem.

Selain penggunaan masker dan kesiapan fasilitas kesehatan, Neng Eem juga menyoroti pentingnya vaksinasi influenza. Menurutnya, imunisasi influenza dapat menurunkan risiko keparahan apabila seseorang terinfeksi, khususnya bagi kelompok rentan.

“Imunisasi influenza dapat menurunkan risiko keparahan jika terinfeksi. Penggunaan masker, kesiapan faskes, dan imunisasi harus berjalan bersamaan agar dampak super flu dapat ditekan,” katanya.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa hingga Desember 2025 terdapat 62 kasus infeksi virus influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia. Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun belum terjadi lonjakan signifikan, penyebaran virus ini sudah ada dan perlu diwaspadai.

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, menyampaikan bahwa puluhan kasus tersebut tersebar di delapan provinsi. Konsentrasi kasus terbanyak tercatat berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS. Langkah tersebut meliputi menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker saat sakit atau berada di keramaian, serta menjaga daya tahan tubuh.

“Jaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta,” tutur Prima dalam keterangannya yang dikutip Senin (5/1/2026).

Prima menegaskan bahwa vaksin influenza yang tersedia saat ini tetap efektif untuk mencegah sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat influenza, termasuk varian yang beredar saat ini.

Secara global, peningkatan kasus influenza A(H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, bertepatan dengan masuknya musim dingin. Kondisi cuaca dingin diketahui meningkatkan risiko penyebaran virus pernapasan, termasuk influenza.

Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Hingga saat ini, subclade tersebut telah dilaporkan beredar di lebih dari 80 negara di berbagai kawasan dunia.

Di kawasan Asia, subclade K tercatat telah menyebar di sejumlah negara sejak Juli 2025, antara lain Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand. Meski penyebarannya cukup luas, otoritas kesehatan global menilai tingkat keparahan virus ini masih terkendali.

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan,” ujar Prima.

Meski demikian, pemerintah tetap diminta untuk waspada dan tidak lengah. Pengalaman pandemi sebelumnya menjadi pelajaran penting bahwa kesiapsiagaan dini, transparansi informasi, serta partisipasi aktif masyarakat merupakan kunci utama dalam mencegah krisis kesehatan yang lebih besar. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *