
KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Edi Nasapta, meminta Pemerintah Kota Pangkalpinang untuk lebih serius dalam menata wajah ibu kota provinsi agar tampil sebagai kota yang maju, modern, dan berdaya saing tinggi. Senin (20/4/2026)
Menurutnya, Pangkalpinang sebagai pusat pemerintahan dan etalase Provinsi Kepulauan Bangka Belitung harus memiliki identitas yang kuat. Hal tersebut, kata dia, dapat tercermin melalui tata kota yang rapi, estetika yang menarik, serta infrastruktur yang memadai dan mendukung aktivitas masyarakat.

“Saya berharap dan menghimbau kepada Wali Kota Pangkalpinang beserta jajaran, termasuk DPRD Kota, untuk memberikan perhatian lebih dalam pembangunan kota. Pangkalpinang ini adalah wajah provinsi, sehingga harus benar-benar ditata dengan baik,” ujar Edi Nasapta, Sabtu (18/4/2026).
Ia menegaskan bahwa penataan kota tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut bagaimana menghadirkan ruang publik yang nyaman, aman, dan memiliki daya tarik bagi masyarakat maupun wisatawan. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang matang serta komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan.
Salah satu potensi yang disorot Edi adalah keberadaan sungai-sungai yang membelah Kota Pangkalpinang. Ia menilai, aset alam tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata dan pusat aktivitas ekonomi baru.
Menurutnya, konsep pengembangan kawasan sungai dapat dimulai dari titik-titik strategis, seperti kawasan Jembatan Dua Belas. Ia mengusulkan agar pemerintah kota menyiapkan infrastruktur dasar guna menarik minat investor.
“Di kawasan Jembatan Dua Belas, pemerintah bisa menyiapkan dermaga-dermaga yang representatif. Dari situ, investor dapat masuk membangun restoran terapung yang menarik dan berkelas,” jelasnya.
Edi juga menawarkan gagasan pengembangan wisata kuliner berbasis sungai dengan konsep yang unik dan inovatif. Ia membayangkan hadirnya kapal wisata yang menyajikan pengalaman makan malam sambil menyusuri aliran sungai.
“Konsepnya seperti dinner cruise skala mini. Masyarakat bisa menikmati makan malam di atas kapal yang berjalan perlahan. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga maupun wisatawan,” tambahnya.
Selain potensi wisata sungai, Edi Nasapta turut menyoroti kondisi infrastruktur kota yang dinilai perlu segera dibenahi. Ia menilai sejumlah elemen tata kota, seperti pembatas jalan dan median, sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.
Ia mencontohkan pembatas jalan di kawasan Jalan Mayor Saffrey Rahman hingga alun-alun kota dan titik nol kilometer yang perlu didesain ulang agar lebih modern dan estetis.
“Pembatas jalan seperti yang ada di Jalan Mayor Saffrey Rahman hingga ke kawasan alun-alun kota sampai titik nol kilometer perlu segera dibenahi. Desain yang ada saat ini sudah mulai ketinggalan zaman,” tegasnya.
Menurutnya, penataan ulang tersebut harus mencakup berbagai aspek, mulai dari pagar pembatas, pot tanaman, hingga penataan pohon di median jalan. Ia mendorong agar elemen-elemen tersebut dirancang dengan konsep yang lebih artistik sehingga mampu menciptakan kesan visual yang menarik.
Tak hanya itu, Edi juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pencahayaan kota. Ia menyarankan agar lampu-lampu jalan tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga menjadi bagian dari estetika kota.
“Lampu-lampu kota juga harus diperbanyak dan dibuat lebih estetik. Penataan ini penting untuk membangun suasana kota yang hidup, indah, dan memiliki karakter kuat,” ujarnya.
Dalam aspek kenyamanan, ia menyoroti kondisi trotoar yang di beberapa titik dinilai belum layak digunakan oleh pejalan kaki. Ia menilai perbaikan trotoar menjadi hal mendasar yang harus segera dilakukan untuk mendukung mobilitas masyarakat.
“Trotoar harus rapi dan layak digunakan. Ini penting agar masyarakat merasa nyaman berjalan kaki dan aktivitas kota menjadi lebih tertata,” katanya.
Selain itu, ia juga mendorong evaluasi sistem lalu lintas, termasuk kemungkinan penerapan jalur satu arah di beberapa ruas jalan guna mengurangi kemacetan dan meningkatkan keteraturan arus kendaraan.
Edi Nasapta turut menyinggung pertumbuhan sektor ekonomi kreatif di Pangkalpinang, khususnya menjamurnya kafe dan tempat nongkrong. Ia menilai perkembangan tersebut sebagai hal positif, namun tetap memerlukan penataan yang baik agar tidak menimbulkan kesan semrawut.
Menurutnya, pemerintah kota perlu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan penataan ruang yang terencana. Dengan demikian, aktivitas ekonomi dapat berkembang tanpa mengorbankan keindahan dan kenyamanan kota.
Di akhir penyampaiannya, Edi menegaskan bahwa penataan Pangkalpinang harus menjadi prioritas utama pemerintah kota. Ia berharap adanya keseriusan dalam mewujudkan kota yang tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga memiliki kualitas lingkungan yang baik.
“Harapan kita, Pangkalpinang bisa menjadi kota yang paling maju, paling nyaman, dan benar-benar membanggakan sebagai ibu kota provinsi. Kalau kota ini hidup dari pagi hingga malam dengan penataan yang baik, maka ini akan menjadi kebanggaan kita bersama. Ini perlu keseriusan dan perhatian penuh,” pungkasnya.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki, Pangkalpinang dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi kota modern berbasis potensi lokal. Namun, hal tersebut hanya dapat terwujud melalui perencanaan yang terintegrasi, sinergi antar lembaga, serta komitmen kuat dalam menata wajah kota secara berkelanjutan. (Fani Tamzona/KBO Babel)















