Antrean SPBU Masih Terjadi, Pertamina Tegaskan Pasokan Pertalite dan Pertamax di Beltim Aman

Stok BBM Aman di Beltim, Pertamina Siapkan Tambahan 16 Ton Pertamax dan 32 Ton Pertalite

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BELITUNG TIMUR) — PT Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertamax dan Pertalite, di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) dalam kondisi aman. Kepastian tersebut disampaikan di tengah masih terjadinya antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah tersebut. Selasa (29/9/2026)

Kondisi antrean menjadi perhatian pemerintah daerah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Beltim. Wakil Bupati Beltim Khairil Anwar bersama Forkopimda meninjau langsung kondisi di SPBU Padang, Kecamatan Manggar, Senin (28/9/2026).

banner 336x280

Dalam peninjauan tersebut, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penerapan kartu kendali untuk mengatur pembelian BBM, khususnya bagi pengecer. Mekanisme tersebut dinilai dapat membantu memisahkan pembelian masyarakat umum dengan kebutuhan pengecer sehingga antrean di SPBU dapat lebih teratur.

Ketua DPRD Beltim Fezzi Uktolseja mengatakan penerapan kartu kendali seharusnya sudah dimulai sejak pukul 06.00 WIB. Namun, di lapangan masih ditemukan perbedaan informasi mengenai waktu mulai diberlakukannya mekanisme tersebut.

“Harusnya di seluruh Beltim, penerapan kartu kendali itu jam 6 sudah buka. Makanya kami datang ke sini untuk kontrol. Ternyata dari SPBU katanya jam 13.00. Hari ini kami tekankan kepada SPBU bahwa kartu kendali itu jam 6,” kata Fezzi.

Menurutnya, pemberlakuan kartu kendali sejak pagi penting untuk membantu mengurai antrean. Jika mekanisme tersebut baru diterapkan pada siang hari, masyarakat yang sejak pagi telah mengantre tetap akan menumpuk di SPBU.

Fezzi menjelaskan kartu kendali juga ditujukan untuk mengatur pembelian BBM bagi pengecer agar tidak bercampur dengan antrean masyarakat yang membeli BBM untuk kebutuhan kendaraan pribadi.

“Kenapa? Karena tujuan kita kan mengurai orang-orang yang ingin beli BBM. Kalau kartu kendali dikasih siang, itu tidak bisa mengurai,” ujarnya.

Selain persoalan pengaturan pembelian, DPRD Beltim juga meminta agar ketersediaan BBM di Pertashop diperkuat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Pertamax.

Fezzi menyebut keberadaan Pertashop dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan BBM, sehingga tidak seluruhnya terpusat di SPBU. Menurutnya, kondisi tersebut juga penting untuk mengurangi tekanan antrean di SPBU.

“Kami tadi minta kepada SBM Pertamina agar Pertamax di Pertashop itu segera diaktifkan untuk mengurai. Karena jika kepepet orang beli eceran, sekarang harganya ada yang sudah sampai Rp15 ribu,” kata Fezzi.

Stok Pertamax dan Pertalite Dipastikan Aman

Di tengah antrean yang masih terlihat, pemerintah daerah bersama Pertamina melakukan pengecekan langsung terhadap stok BBM di SPBU Padang. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan ketersediaan BBM sekaligus melihat kelancaran distribusi ke wilayah Beltim.

Sales Branch Manager (SBM) PT Pertamina Patra Niaga Wilayah Belitung, Rafli Alhaq, mengatakan stok Pertamax di SPBU Padang masih tersedia.

Berdasarkan pengecekan, stok Pertamax di SPBU tersebut mencapai sekitar 9 ton. Pertamina juga telah menyiapkan pasokan tambahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Untuk ketersediaan Pertamax, tadi kita sama-sama mengecek. Untuk distribusi normal dan hari ini pun di SPBU Padang Manggar ini ada stok sekitar 9 ton. Hari ini sedang dipersiapkan untuk pengiriman Pertamax sebesar 16 ton,” kata Rafli.

Dengan adanya tambahan pasokan tersebut, Pertamina memastikan distribusi Pertamax ke SPBU Padang tetap berjalan. Pasokan tambahan diharapkan dapat menjaga ketersediaan BBM di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, untuk BBM jenis Pertalite, stok yang tersedia di SPBU Padang saat dilakukan pengecekan sekitar 6 ton. Pertamina juga menyiapkan pengiriman tambahan sebanyak 32 ton.

“Untuk Pertalite juga tadi kita cek, stok aman saat ini pun masih ada 6 ton, dan akan dikirim 32 ton,” ujar Rafli.

Pertamina memastikan distribusi BBM di wilayah Beltim berjalan normal. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembelian secara berlebihan karena pasokan terus disalurkan sesuai kebutuhan.

“Jadi untuk masyarakat kami beritahukan untuk distribusi berjalan normal dan stok aman. Namun kami imbau harap penggunaannya tetap sesuai dengan ketentuan dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan,” tegas Rafli.

Pertashop Tetap Mendapat Pasokan

Selain memastikan stok di SPBU, Pertamina juga menyatakan distribusi BBM ke seluruh Pertashop di wilayah Beltim berjalan normal.

Pertashop memiliki peran sebagai salah satu titik layanan BBM bagi masyarakat, terutama mereka yang berada jauh dari lokasi SPBU. Keberadaan Pertashop diharapkan dapat menjadi alternatif sehingga masyarakat tidak harus datang ke SPBU tertentu yang mengalami kepadatan antrean.

Namun, Pertamina menjelaskan kapasitas penyimpanan BBM di Pertashop memang lebih kecil dibandingkan SPBU. Setiap modular Pertashop memiliki kapasitas maksimal sekitar 2–3 kiloliter.

Kondisi tersebut membuat stok BBM di Pertashop dapat lebih cepat habis ketika terjadi peningkatan permintaan. Dalam kondisi normal, stok bisa bertahan sekitar satu hingga dua hari, bergantung pada tingkat pembelian masyarakat.

“Supply kita saat ini sudah normal. Namun memang secara kapasitas di Pertashop itu cenderung kecil, maksimal di 2–3 KL di satu modular. Jadi secara pembelian bisa sehari atau dua hari habis, namun perlu menunggu pengiriman di hari itu,” jelas Rafli.

Dengan kondisi tersebut, Pertamina menegaskan bahwa persoalan yang terjadi bukan disebabkan terhentinya distribusi BBM. Pasokan tetap dikirim ke SPBU maupun Pertashop sesuai kebutuhan dan kapasitas masing-masing titik penyaluran.

Pemerintah daerah bersama Forkopimda Beltim dan Pertamina kini terus melakukan pengawasan terhadap distribusi serta mekanisme pembelian BBM. Penerapan kartu kendali juga diharapkan berjalan konsisten sejak pagi sehingga pembelian dapat lebih tertib dan antrean kendaraan dapat dikurangi.

Di sisi lain, masyarakat diminta tetap membeli BBM sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku. Pengaturan pembelian tersebut diperlukan agar ketersediaan BBM dapat dinikmati masyarakat secara merata dan mencegah terjadinya pembelian secara berlebihan yang berpotensi menambah kepadatan antrean di SPBU. (Garry Irsa)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *